Anggota DPRD DKI Jakarta merespons usulan penyesuaian tarif Transjakarta hingga Mikrotrans yang disampaikan Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) pekan lalu.

Ketua DTKJ Sugihardjo mengusulkan tarif tunggal Transjakarta dalam kota menjadi Rp5.000, Transjabodetabek Rp10.000, dan Mikrotrans yang semula gratis menjadi Rp2.000.

>>> Crunchyroll Umumkan Film Solo Leveling dan Adaptasi Ghost of Tsushima di Anime Expo 2026

Selain itu, ada skema langganan Rp200.000 per bulan.

Menanggapi usulan tersebut, anggota DPRD DKI M Taufik Zoelkifli meminta agar rencana kenaikan tarif dan skema berlangganan dikaji ulang.

Menurut Taufik, tidak semua pengguna transportasi umum adalah kelompok berpenghasilan tetap. Skema langganan dinilai kurang cocok bagi masyarakat yang tidak rutin menggunakan Transjakarta.

"Ini harus dilihat kelompok konsumennya. Kalau pekerja yang punya penghasilan dan rutin menggunakan Transjakarta, mungkin cocok.

Tapi bagaimana dengan yang tidak rutin?" ujar Taufik di Jakarta, Senin (6/7).

>>> Ghost of Tsushima Legends Anime Ungkap Desain Karakter Perdana di Anime Expo 2026

Ia meminta DTKJ mempertimbangkan skema lain untuk pengguna yang tidak berpenghasilan tetap, seperti pekerja informal. "Apakah ada diskon lain atau seperti apa.

Ini untuk kepentingan warga, karena kondisi ekonomi sekarang juga sedang sulit," paparnya.

Terkait tarif Transjabodetabek, Taufik menilai perlu didiskusikan dengan pemerintah daerah sekitar. Ia khawatir kenaikan menjadi Rp10.000 membuat pengguna beralih kembali ke kendaraan pribadi.

"Sekarang mereka memilih Transjakarta karena murah, Rp3.500.

Tapi kalau menjadi Rp10.000 dan seluruhnya dibebankan kepada konsumen, saya khawatir mereka akan kembali menggunakan kendaraan pribadi," ungkap Taufik.

>>> Angkatan Laut AS Tawarkan Bonus Hingga $280.000 untuk Pertahankan Pilot Cadangan

Ia menyarankan tarif Transjabodetabek sebaiknya hanya Rp7.500 agar tidak terlalu membebankan masyarakat, terutama di daerah penyangga.