Hampir 104.000 orang saat ini berada dalam daftar tunggu transplantasi di Amerika Serikat. Setiap hari, sekitar 17 orang meninggal tanpa mendapatkan organ, sebagian besar ginjal.

Untuk mengatasi kekurangan ini, para ilmuwan mengembangkan babi hasil rekayasa genetik sebagai sumber organ alternatif.

>>> Pencetak Gol Terbanyak Piala Dunia 2026: Messi, Mbappe, Haaland Sama Kuat

Revivicor, perusahaan yang berbasis di Blacksburg, Virginia, telah bekerja selama lebih dari 20 tahun untuk mewujudkannya.

Proses Produksi Babi Transgenik

Babi-babi ini bukan babi peternakan biasa. Jutaan dolar telah diinvestasikan untuk menciptakan genom yang dimodifikasi agar tidak ditolak oleh tubuh manusia.

Di laboratorium, kepala biologi seluler Todd Vaught menggunakan pipet untuk mengambil sel telur dari babi potong.

Ia membuang materi genetik asli dan menggantinya dengan sel kloning yang mengandung instruksi untuk menghasilkan babi termodifikasi.

Sel yang dimodifikasi kemudian ditanamkan ke induk babi pengganti. Sekitar empat bulan kemudian, lahirlah anak babi dengan gen yang telah diedit.

Sepuluh Suntingan Gen, Enam di Antaranya Gen Manusia

Garis babi pertama Revivicor hanya memiliki satu suntingan gen yang menonaktifkan zat pemicu penolakan langsung.

Garis kedua memiliki 10 suntingan gen: empat gen babi dinonaktifkan dan enam gen manusia ditambahkan untuk meningkatkan kompatibilitas.

United Therapeutics, perusahaan induk Revivicor, berinvestasi besar-besaran pada garis kedua ini. Ginjal dari garis kedua itulah yang ditransplantasikan ke pasien bernama Looney.

Pada Maret 2025, United Therapeutics membuka fasilitas produksi baru. Juru bicara Dewey Steadman menyebutnya sebagai "pabrik farmasi yang beroperasi dengan babi."

Fasilitas ini menampung sekitar 200 hewan dengan protokol sanitasi ketat untuk mencegah infeksi.

Transplantasi Looney awalnya berhasil. Ia hidup 130 hari dengan ginjal babi yang berfungsi, menjadikannya penerima dengan kelangsungan hidup terlama.