"Efeknya tidak hanya terkait dengan jumlah bahasa yang digunakan.

Kemahiran bahasa yang lebih tinggi dan perolehan bahasa kedua yang lebih awal juga dikaitkan dengan penuaan otak yang lebih lambat," jelasnya.

Tim peneliti telah menyesuaikan faktor usia, jenis kelamin biologis, dan tingkat pendidikan formal.

Namun, mereka mencatat bahwa pengaruh lingkungan lain, termasuk gaya hidup dan interaksi sosial, juga dapat memengaruhi kesehatan otak.

Prof. Christina Dalla, seorang ahli saraf dari National and Kapodistrian University of Athens, setuju bahwa mempelajari bahasa tambahan membantu menjaga otak tetap muda seiring waktu.

"Studi ini menunjukkan bahwa belajar bahasa kedua, ketiga, atau keempat dapat membantu otak kita tetap lebih muda lebih lama, dan semakin cepat kita mulai, semakin baik," ujarnya.

Sementara itu, Eef Hogervorst, profesor psikologi biologi di Loughborough University, menyarankan kehati-hatian mengenai penyebab langsung dari temuan ini.

>>> Windows 11 24H2 Akan Kehilangan Dukungan Oktober 2026, Saatnya Upgrade ke 25H2!

Menurutnya, orang yang berbicara banyak bahasa mungkin juga menjalani gaya hidup yang lebih sehat dan memiliki akses lebih baik ke lingkungan dan aktivitas pelindung lainnya, seperti membaca, belajar seumur hidup, dan bermain alat musik.