Pengembangan Kawasan Pangan di Papua Selatan

Papua Selatan saat ini menjadi episentrum pengembangan kawasan pangan baru nasional.

Pemerintah telah mengembangkan 83.030 hektare lahan cetak sawah dan 54.399 hektare optimalisasi lahan di seluruh Tanah Papua.

Dari jumlah tersebut, Papua Selatan menjadi wilayah pengembangan terbesar dengan 48.934 hektare lahan cetak sawah dan 53.499 hektare optimalisasi lahan, atau hampir 100 ribu hektare kawasan produksi pangan.

Untuk mempercepat pengembangan kawasan ini, pemerintah mengalokasikan dukungan sebesar Rp1,3 triliun pada 2026.

>>> Empat Tim Lolos ke Perempat Final Piala Dunia 2026

Dana ini mencakup penyediaan benih unggul, alat dan mesin pertanian, pembangunan Rice Milling Unit, dryer, gudang penyimpanan, hingga infrastruktur pendukung lainnya.

Modernisasi pertanian di Merauke menunjukkan hasil positif.

Pemanfaatan traktor, drone pertanian, rice transplanter, dan combine harvester mendorong produktivitas gabah naik dari sekitar 3 ton per hektare menjadi 4 hingga 7 ton per hektare.

Indeks pertanaman di kawasan ini sudah mencapai dua kali tanam per tahun. Angka ini ditargetkan naik menjadi tiga kali tanam agar produksi pangan nasional terus bertambah.

Peningkatan produktivitas turut berdampak pada kesejahteraan petani setempat.

Berdasarkan data pemerintah daerah, pendapatan petani di kawasan pengembangan naik hingga 300 persen setelah memanfaatkan program cetak sawah dan mekanisasi pertanian.

Antusiasme petani terhadap program ini tergolong tinggi.

Mereka mengusulkan penambahan sekitar 2.000 hektare lahan cetak sawah baru untuk mendukung peningkatan produksi pangan di wilayah tersebut.

Seiring meningkatnya produksi pertanian, pemerintah memastikan hasil panen petani memiliki kepastian pasar. Perum Bulog mengambil peran sebagai offtaker yang menyerap gabah dan beras petani sesuai ketentuan pemerintah.