SpaceX, perusahaan milik Elon Musk, mulai membebani pelanggan Starlink dengan biaya tambahan yang disebut "demand surcharge" hingga $1.500 (sekitar Rp24 juta).

Biaya ini dikenakan hanya karena alamat pelanggan berada di area dengan permintaan tinggi terhadap layanan internet satelit tersebut.

>>> FIA Sebut Kesalahan Software Penyebab Safety Car di GP Inggris

Keluhan pun bermunculan di media sosial.

Seorang pengguna Reddit mengaku ditagih $1.500 hanya untuk memverifikasi alamat yang sudah ia gunakan selama tiga tahun.

Ia mengatakan layanan pelanggan Starlink tidak membantu dan ia terus diarahkan dari satu agen ke agen lain selama lima hari.

Pengguna lain yang bepergian dengan RV menggunakan paket residensial Starlink kaget mendapat tagihan $500 setelah masuk ke area dengan surcharge tinggi.

Meskipun akhirnya mendapatkan refund setelah agen menemukan kesalahan sistem, banyak pelanggan lain mungkin tetap harus membayar biaya besar.

>>> Newcastle United Resmi Datangkan Bazoumana Toure dari Hoffenheim

Biaya Melonjak dalam Dua Tahun

Biaya permintaan ini mulai diterapkan secara diam-diam pada 2024, awalnya hanya $100. Pada Juni 2025, jumlahnya naik hingga $1.000 di beberapa wilayah AS.

Bulan lalu, surcharge mencapai $1.500 di sebagian Alaska, menunjukkan kenaikan eksponensial dalam dua tahun.

Halaman dukungan SpaceX (yang hanya tersedia dalam bahasa Swahili) menjelaskan bahwa pindah dari area padat ke area tidak padat tidak dikenai biaya tambahan.

Namun, sebaliknya akan dikenai surcharge berdasarkan kapasitas jaringan saat ini.

Tarif bulanan Starlink juga mulai naik, membuat layanan ini semakin mahal bagi pelanggan di daerah pedesaan yang tidak punya alternatif lain.

>>> Kode Redeem Free Fire Terbaru 6 Juli 2026, Buruan Klaim Hadiahnya!

Mantan senator Nebraska Julie Slama mengatakan kepada Washington Post bahwa setelah pelanggan pedesaan terikat dengan Starlink tanpa pilihan lain, perusahaan bebas menaikkan harga.