Anggapan bahwa evolusi manusia telah berhenti karena kemajuan teknologi dan pengobatan modern ternyata keliru. Spesies kita masih terus dibentuk oleh penyakit, pola makan, dan lingkungan tempat kita hidup.

Proses evolusi bekerja melalui individu yang memiliki gen tertentu sehingga memiliki keunggulan bertahan hidup.

>>> Pemerintah AS Luncurkan Trump Accounts untuk Tabungan Anak

Mereka cenderung memiliki lebih banyak keturunan, dan sifat genetik yang menguntungkan itu diwariskan ke generasi berikutnya.

Para antropolog saat ini dapat menyaksikan evolusi terjadi secara langsung—bahkan terkadang dipercepat oleh kebiasaan budaya kita sendiri.

Sapi, Keju, dan Budaya: Teman Tak Terduga Evolusi

Sekitar 10.000 tahun lalu, manusia di beberapa wilayah mulai menjinakkan sapi dan kambing. Pada sekitar 8.000 SM, mereka sudah memerah susu hewan-hewan tersebut.

Masalahnya, seperti hampir semua mamalia dewasa, manusia saat itu tidak bisa mencerna laktosa. Namun, sebagian kecil dari mereka memiliki mutasi genetik langka yang memungkinkan mereka mencerna susu.

Susu ternyata menjadi sumber kalori yang sangat berharga sehingga individu yang beruntung ini lebih mudah bertahan hidup dan memiliki lebih banyak keturunan.

Lambat laun, toleransi laktosa menyebar di komunitas peternak.

Para peneliti menyebut proses ini sebagai ko-evolusi budaya-biologis: perilaku manusia (memerah susu hewan) secara langsung mengubah warisan genetik kita.

Warna Kulit dan Sinar Matahari: Adaptasi dalam Warna Hidup

Kisah warna kulit mengikuti naskah evolusi yang sama. Melanin membantu melindungi kulit dari sinar ultraviolet yang berbahaya, mengurangi risiko kanker kulit di dekat khatulistiwa.

Di daerah yang lebih gelap dan kurang cerah, kulit gelap justru dapat menghambat sintesis vitamin D yang penting untuk tulang yang kuat.