Sebuah studi yang diterbitkan di Alcheringa mengungkap penemuan fosil burung dan katak purba di Gua Moa Eggshell dekat Waitomo, Pulau Utara Selandia Baru.

Tim peneliti yang dipimpin Trevor Worthy dari Flinders University dan Paul Scofield dari Canterbury Museum menemukan fosil-fosil tersebut terawetkan di antara dua lapisan abu vulkanik.

in1

>>> Biopsi Kelenjar Sentinel: Revolusi Diagnosis dan Pengobatan Kanker

Lapisan bawah berusia 1,55 juta tahun, sementara lapisan atas terbentuk sekitar satu juta tahun lalu, memberikan jendela geologis ke Pleistosen Awal.

Sebelum penemuan ini, catatan fosil burung di Selandia Baru memiliki celah kronologis yang signifikan.

Paleontolog memiliki gambaran jelas tentang satwa liar dari 16 hingga 20 juta tahun lalu, dan era tepat sebelum kontak manusia, tetapi hampir tidak ada data di antaranya.

Dari hanya 21 fragmen tulang yang dapat digunakan, tim mengidentifikasi 12 spesies burung dan 4 spesies katak purba.

Setidaknya empat spesies burung tidak pernah muncul di situs fosil yang lebih muda, yang berarti mereka punah selama periode awal ini.

Burung Beo dan Leluhur yang Punah

Di antara temuan tersebut adalah Strigops insulaborealis, kerabat kākāpō yang hampir tidak dikenal.

Analisis tulang kaki menunjukkan burung beo purba ini adalah pemanjat yang lebih kikuk dibandingkan kākāpō modern, menandakan gaya hidup yang sangat berbeda.

Satu tulang sayap bahkan menunjukkan bekas gigitan kecil yang ditinggalkan oleh serangga penggerek kayu.

>>> Link DANA Kaget Malam Ini: Buruan Klaim Saldo Gratis Sebelum Habis

Gua ini juga menyimpan sisa-sisa leluhur takahē yang punah, burung besar tak terbang yang hanya bertahan melalui upaya konservasi intensif saat ini.