Selama ribuan generasi, komunitas yang bermigrasi ke utara mengembangkan warna kulit yang lebih terang.

>>> Wabah Parasit Cyclosporiasis Meluas ke 18 Negara Bagian AS, Michigan Paling Terdampak

Hal ini menunjukkan bahwa iklim masih memberikan kekuatan evolusioner secara langsung.

Wabah dan Pandemi: Kekuatan Seleksi Alam

Pada pertengahan abad ke-14, sekitar sepertiga penduduk Eropa lenyap dalam beberapa tahun. Penyebabnya adalah bakteri yang kejam.

Hasil yang tidak terduga adalah perubahan besar dalam susunan genetik para penyintas.

Wabah Pes (Black Death) memusnahkan satu dari tiga orang Eropa antara 1347 dan 1351.

Di balik angka yang mencengangkan ini terdapat peristiwa evolusi besar: di antara para penyintas, sejumlah besar membawa varian genetik yang memberikan resistensi terhadap Yersinia pestis.

Keturunan mereka mewarisi perlindungan parsial ini, yang bertahan dalam kumpulan gen Eropa selama berabad-abad.

Pada 2020, pandemi COVID-19 melanda dunia dan memunculkan pertanyaan yang sama. Beberapa individu menunjukkan resistensi alami terhadap SARS-CoV-2 yang terkait dengan genotipe mereka.

Jika resistensi ini memberikan keuntungan reproduktif dalam jangka panjang, evolusi dapat meningkatkan frekuensinya dalam populasi dari generasi ke generasi.

Penyakit menular bukan sekadar krisis kesehatan; mereka adalah peristiwa evolusi. Perlahan tapi pasti, mereka membentuk kembali biologi Homo sapiens.

Menganggap bahwa manusia telah lepas dari tekanan seleksi alam hanya karena kita membangun rumah dan menemukan vaksin berarti mencampuradukkan kenyamanan dengan kekebalan evolusioner.

>>> Jangan Salahkan Nasi, Ternyata Ini Penyebab Utama Perut Buncit

Spesies kita berubah dan akan terus berubah—selama ia masih hidup.