Perseroan menyebut transformasi dilakukan seiring meningkatnya kompleksitas ancaman digital dan percepatan adopsi AI. Kebutuhan organisasi terhadap sistem keamanan siber yang lebih adaptif dan terotomatisasi juga meningkat.

Berdasarkan studi kelayakan independen, model bisnis berbasis recurring revenue diproyeksikan mampu menghasilkan rata-rata gross profit margin sebesar 74% dan net profit margin sebesar 55% selama periode 2026–2031.

Untuk mendukung ekspansi, ITSEC Asia menyiapkan investasi awal sebesar Rp11 miliar. Seluruh dana akan dibiayai dari kas operasional internal perusahaan.

Perseroan juga akan memanfaatkan infrastruktur teknologi dan kapabilitas riset yang telah dimiliki. Dengan demikian, tidak diperlukan tambahan pendanaan eksternal.

Patrick menegaskan penerapan AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran tenaga profesional di bidang keamanan siber. Sebaliknya, AI bertujuan meningkatkan efektivitas dan kecepatan pengambilan keputusan dalam menghadapi ancaman digital.

>>> Data dan Fakta usai Brasil Hajar Jepang: Rekor Casemiro hingga Kutukan Samurai Biru

"Kami tidak melihat AI sebagai pengganti manusia dalam keamanan siber. Kami melihat AI sebagai pengganda kemampuan yang memungkinkan para ahli keamanan siber bekerja lebih cepat," pungkas Patrick.