Skor tetap bertahan 1-1 selama 120 menit sehingga pertandingan harus ditentukan melalui adu penalti.

Justin Kluivert Gagal Penalti, Belanda Tersingkir

Drama adu penalti berlangsung penuh ketegangan.

Belanda membuka keunggulan melalui Teun Koopmeiners. Namun momentum tersebut langsung sirna ketika Justin Kluivert gagal menjalankan tugasnya. Tendangan putra Patrick Kluivert itu hanya membentur tiang gawang sehingga gagal menghasilkan gol.

Maroko juga sempat mengalami kegagalan ketika Neil El Aynaoui mengenai mistar gawang.

Selanjutnya, Soufiane Rahimi berhasil mencetak gol penyeimbang sebelum Wout Weghorst kembali membawa Belanda unggul 2-1.

Chemsdine Talbi kembali menyamakan kedudukan bagi Maroko. Drama berlanjut ketika Quinten Timber gagal mencetak gol, disusul kegagalan Achraf Hakimi yang juga membentur tiang gawang.

Penentuan akhirnya terjadi saat Yassine Bounou berhasil menggagalkan tendangan Crysencio Summerville.

Momentum tersebut dimanfaatkan dengan sempurna oleh Ismael Saibari yang maju sebagai penendang terakhir. Dengan penyelesaian yang tenang, Saibari sukses mengecoh Bart Verbruggen dan memastikan kemenangan Maroko 3-2 melalui adu penalti.

Maroko Tantang Kanada, Belanda Pulang Lebih Awal

Kemenangan dramatis ini mengantarkan Maroko melaju ke babak 16 besar Piala Dunia 2026, di mana mereka akan menghadapi Kanada dalam perebutan tiket menuju perempat final.

Hasil tersebut sekaligus mempertegas status Singa Atlas sebagai salah satu kekuatan baru sepak bola dunia setelah sebelumnya mencatat sejarah dengan mencapai semifinal Piala Dunia 2022.

Sementara itu, Belanda harus mengakhiri perjuangan mereka lebih cepat dari yang diperkirakan. Kekalahan ini meninggalkan penyesalan besar karena Oranje gagal mempertahankan keunggulan yang telah diraih hingga penghujung pertandingan.

Sorotan pun mengarah kepada Justin Kluivert yang gagal memanfaatkan peluang dalam adu penalti. Meski demikian, kekalahan Belanda tidak semata-mata disebabkan oleh satu pemain, melainkan hasil dari rangkaian momen sepanjang pertandingan, termasuk kegagalan mempertahankan keunggulan pada masa injury time dan kurang efektifnya penyelesaian peluang selama 120 menit pertandingan.