Satu panel mengkaji lokalitas dan globalisasi melalui BTS dan bahasa, sementara sesi lain meneliti identitas Latin dalam grup global HYBE, Santos Bravos, serta fenomena gelombang Korea pasca-nomaden di Mongolia.

Presentasi tambahan menyelidiki konten buatan kecerdasan buatan (AI) di komunitas penggemar, teknologi digital, identitas gender, dan perubahan bentuk partisipasi penggemar.

Sesi khusus yang diselenggarakan oleh Hallyu Convergence Academy Dongguk University juga akan mengkaji keberlanjutan "pasca-Hallyu," dengan fokus pada ekosistem budaya yang digerakkan secara lokal, AI generatif di platform seperti TikTok, dan bentuk kreativitas digital yang baru muncul.

Selain presentasi akademik, peserta dapat menonton film dokumenter "Forever We Are Young" yang berpusat pada penggemar BTS, dilanjutkan dengan diskusi bersama sutradara Grace Lee dan para akademisi.

Konferensi akan ditutup dengan pertunjukan tradisional oleh penyanyi pansori (opera rakyat Korea) dari Jeonju yang menginterpretasi ulang album "ARIRANG."

Panitia mengatakan pertunjukan tersebut mencerminkan kota tuan rumah yang dikenal dengan warisan budaya tradisionalnya, serta keterlibatan kembali BTS dengan identitas Korea.

Setelah konferensi, peserta akan mengikuti "ARMY Tour" yang mencakup kunjungan ke situs-situs terkait BTS di Wanju, Provinsi Jeolla Utara, dan pengalaman langsung membuat kipas hanji (kertas tradisional Korea).

>>> RESCENE Buktikan Agensi Kecil Masih Bisa Bersaing di Industri K-Pop

Dimulai pada 2020 di Kingston University, Inggris, konferensi tahunan ini telah diadakan bekerja sama dengan California State University, Northridge, Hankuk University of Foreign Studies, dan University of Malaya, berkembang menjadi jaringan akademik internasional yang didedikasikan untuk mempelajari BTS dan gelombang Korea kontemporer.