Hal itu membuat ekspansi menjadi mahal sejak awal.

Rencana jalur penghubung bandara Munich, salah satu upaya terdekat untuk membangun rute komersial Jerman, dibatalkan setelah perkiraan biaya melonjak tajam, dengan proyeksi sekitar 3,65 miliar hingga 3,87 miliar dolar AS.

Jadi, masalahnya bukan hanya apakah Jerman bisa membangun kereta tersebut. Masalahnya adalah apakah negara itu bisa membenarkan pembangunan seluruh sistem di sekitarnya.

Kecelakaan yang Mengubah Suasana

Kemudian datanglah 22 September 2006.

Sebuah kereta Transrapid di jalur uji Emsland bertabrakan dengan kendaraan perawatan yang masih berada di jalur, menewaskan 23 orang.

Lokasi itu kemudian menjadi monumen peringatan sekaligus simbol ambisi teknologi.

Kecelakaan itu tidak menghapus pencapaian teknik di balik sistem tersebut, tetapi secara serius merusak kepercayaan publik di saat proyek sudah menghadapi tekanan biaya dan politik.

Pada akhir 2011, fasilitas uji Emsland telah dinonaktifkan.

Bagi banyak orang Jerman, kereta masa depan menjadi sesuatu yang bisa mereka kunjungi, ingat, dan perdebatkan, tetapi tidak bisa mereka tumpangi untuk bekerja.

China Membuatnya Praktis

Shanghai mengambil jalur yang berbeda.

>>> Scalpers Jual Steam Machine Valve hingga Rp48 Juta, Dua Kali Lipat Harga Resmi

Kota itu membangun jalur maglev komersial antara Bandara Internasional Pudong dan Longyang Road, menggunakan teknologi Transrapid Jerman dalam layanan penumpang nyata.

Menurut situs resmi Shanghai Maglev, konstruksi dimulai pada 1 Maret 2001, dan uji coba operasi dimulai pada 31 Desember 2002.

Sistem ini dirancang untuk kecepatan maksimum mendekati 267 mil per jam, dan jalur itu dengan cepat menjadi contoh maglev berkecepatan tinggi paling terkenal di dunia.

Saat ini, halaman resmi Bandara Shanghai mencantumkan kecepatan tertinggi maglev sekitar 186 mil per jam.