Pemerintah Israel mengakui bahwa rencana operasi militer besar-besaran terhadap Hizbullah di Lebanon akhirnya dibatasi akibat tekanan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Trump saat itu memprioritaskan jalannya negosiasi dengan Iran.

>>> Link Download Logo Resmi HUT Ke-81 RI dan Aturan Penggunaan

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan apabila bukan karena tekanan dari Washington, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) sebenarnya telah menyiapkan serangan udara berskala besar yang diyakini mampu melumpuhkan Hizbullah secara menyeluruh.

Menurut Katz, militer Israel sebelumnya telah merancang kampanye udara masif terhadap berbagai target Hizbullah di Lebanon.

Namun rencana itu tidak dapat dijalankan karena Amerika Serikat menghubungkan situasi di Lebanon dengan proses diplomasi yang sedang berlangsung bersama Iran.

"Seandainya tidak ada tekanan Amerika terhadap Israel, IDF akan menyebabkan keruntuhan Hizbullah di Lebanon," ujar Katz, dikutip Selasa (30/6).

Ia menjelaskan bahwa Donald Trump saat itu mengaitkan perkembangan di Lebanon dengan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Akibatnya, Israel harus membatasi operasi militernya di Beirut dan hanya diperbolehkan melakukan serangan yang bersifat lebih terbatas.

"Saya menyesal dengan keterkaitan itu, tetapi itu adalah kepentingan Amerika. Mereka sangat ingin memajukan kemungkinan negosiasi dengan Iran," kata Katz.

Menurutnya, ketika Israel memutuskan menjadi mitra strategis Amerika Serikat, terdapat keuntungan yang diperoleh tetapi di sisi lain juga muncul berbagai pembatasan terhadap kebijakan militer Israel.

Katz bahkan mengungkapkan bahwa Trump memberikan tekanan langsung kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu melalui serangkaian komunikasi menjelang penandatanganan nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran.

>>> Lenovo Perbarui Desktop GeekPro dengan Core i7-14700F dan RTX 5060 Ti