Akibat kondisi tersebut, Israel akhirnya mengubah strategi militernya atau beralih ke "Plan B".

Strategi baru itu difokuskan pada operasi di wilayah utara Sungai Litani serta perluasan zona keamanan di Lebanon selatan dengan persetujuan Amerika Serikat.

Meski menahan operasi besar, Israel menegaskan tetap akan bertindak jika Iran ikut campur secara langsung.

Katz mengatakan IDF telah menyiapkan berbagai target di Iran apabila Teheran menyerang Israel menggunakan rudal balistik sebagai respons atas operasi di Lebanon.

"Bahkan itu bisa terjadi dalam dua hari.

Kami memiliki target untuk diserang di Iran dan IDF siap, tetapi kami tidak akan mengganggu arah kebijakan Presiden Amerika Serikat terhadap Iran," ujarnya.

Di saat yang sama, operasi militer Israel terhadap Hizbullah tetap berlangsung.

Militer Israel menyatakan telah melancarkan serangan udara terhadap tiga pusat komando Hizbullah di Lebanon selatan sebagai respons atas serangan kelompok tersebut terhadap pasukan Israel.

Pengakuan Katz memperlihatkan bahwa dinamika hubungan Israel dan Amerika Serikat tidak hanya dipengaruhi kepentingan keamanan di Lebanon, tetapi juga strategi diplomatik Washington dalam membuka ruang negosiasi dengan Iran.

>>> Ramalan Zodiak 30 Juni: Gemini Jangan Percaya Gosip, Taurus Harus Sabar

Dengan kata lain, ambisi militer Israel terhadap Hizbullah harus disesuaikan dengan prioritas geopolitik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.