Amran juga mengklaim kedelai hasil pengembangan UGM memiliki kualitas lebih baik dibandingkan kedelai impor.

Menurutnya, varietas tersebut merupakan kedelai non-genetically modified organism (non-GMO) dengan ukuran biji yang lebih besar.

"Ini kualitasnya lebih bagus karena non-GMO. Jadi ini sangat bagus.

>>> Babak 1 Piala Dunia 2026: Jerman Tertinggal 0-1 dari Paraguay

Apalagi kedelai lokal tapi butirannya lebih besar daripada impor," ujarnya.

Amran mengatakan anggaran untuk pengembangan kedelai seluas 2.000 hektare diperkirakan mencapai sekitar Rp20 miliar.

Menurutnya, apabila pengembangan tahap awal tersebut berhasil, luas tanam akan ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai 100 ribu hektare.

"(Target pengurangan impor kedelai) kita lihat dulu 2.000 hektare. Kalau ini berhasil kita tingkatkan kalau perlu sampai 100 ribu hektare," katanya.

Ia berharap kedelai tersebut sudah dapat dipanen pada akhir tahun ini.

Amran mengatakan kolaborasi dengan UGM menjadi bagian dari upaya pemerintah mengembangkan komoditas yang selama ini masih diimpor sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas ekspor melalui hilirisasi.

"Menyasar komoditas impor dan menaikkan komoditas ekspor. Hilirisasi kelapa, pala, kopi, kakao, mente, tebu.

Jadi cara kita adalah bagaimana produk yang ada kita hilirisasi karena kita sudah unggul seperti CPO. Kemudian yang impor kita hasilkan sendiri," ujarnya.

Menurut Amran, model kerja sama serupa sebelumnya juga dilakukan dengan Institut Pertanian Bogor (IPB). Kementan membeli benih hasil inovasi IPB senilai Rp250 miliar.

Sementara untuk kerja sama dengan UGM, nilai yang disepakati mencapai sekitar Rp40 miliar.

"Mudah-mudahan tahun depan bisa meningkat kolaborasi kita seperti baru-baru ini dengan IPB, nilai benihnya yang kami beli Rp250 miliar.

Itu langsung kami beli. Ini UGM hari ini kurang lebih Rp40 miliar kita sepakat.

Jadi kalau kita bisa menghasilkan bibit-bibit unggul, benih-benih unggul, ngapain kita beli dari luar?" kata Amran.

Amran menambahkan dari 11 komoditas pangan strategis nasional, Indonesia saat ini telah mencapai swasembada pada delapan komoditas.

>>> Mengenal Free-range Parenting, Benarkah Bikin Anak Mandiri?

Pemerintah kini mulai merintis peningkatan produksi untuk komoditas yang masih bergantung pada impor, termasuk kedelai dan bawang putih, sembari menjaga keberlanjutan swasembada padi dan jagung.