Ketajaman lini serang Jepang juga diperkuat oleh Ayase Ueda yang tampil gemilang di kompetisi Belanda bersama Feyenoord.

Striker tajam tersebut sukses menyabet gelar pencetak gol terbanyak setelah mengemas total 25 gol musim lalu.

>>> Truk Tabrak Sejumlah Motor di Bekasi, 1 Tewas dan 5 Luka-luka

Di sisi domestik, Jepang hanya menyisakan tiga pemain J. League termasuk kiper cadangan Keisuke Osako dan Tomoki Hayakawa.

Satu nama lokal lainnya adalah bek veteran Yuto Nagatomo yang sarat pengalaman selama tujuh musim di Inter Milan.

Sebaliknya, kubu Brasil datang dengan kekuatan yang dinilai tidak lagi sekeramat generasi emas mereka di masa lampau.

Skuad Selecao kini bertumpu pada Vinicius Junior di tengah penurunan kondisi kebugaran Raphinha pasca-musim padat di Barcelona.

Meskipun Neymar masih berada di dalam tim pada usia 34 tahun, reputasi menakutkan Brasil perlahan mulai bisa diimbangi.

Jepang bahkan mengantongi modal psikologis penting berkat kemenangan 3-2 atas Brasil pada laga uji coba Oktober lalu.

Kemenangan bersejarah itu diraih lewat perjuangan luar biasa setelah tertinggal dua gol terlebih dahulu pada babak pertama.

Keberhasilan menundukkan skuad utama Brasil tersebut memutus rantai inferioritas yang membayangi Jepang selama bertahun-tahun.

Konteks rivalitas kedua negara bermula pada 22 Juni 2006 saat mereka bersua di Dortmund dalam ajang Piala Dunia Jerman.

Saat itu, Brasil yang dihuni Ronaldo, Ronaldinho, dan Kaka berhasil mencukur Jepang dengan skor telak 4-1.

Waktu itu Jepang baru tampil pada Piala Dunia ketiga mereka, sementara Brasil berstatus sebagai juara bertahan lima kali.

Kesenjangan kualitas begitu mencolok karena raksasa Amerika Selatan tersebut diperkuat para bintang Real Madrid dan AC Milan.

Kini, setelah dua puluh tahun berlalu, kota Houston akan menjadi saksi seberapa jauh perkembangan sepak bola Jepang.

>>> Belanda vs Maroko: Ronald Koeman Janji Oranje Tetap Tampil Ofensif

Skuad Samurai Blue siap membuktikan bahwa mereka bukan lagi tim semenjana yang mudah ditundukkan.