Data registrasi akan langsung muncul di sistem setelah paspor dipindai, sehingga wisatawan tidak perlu lagi menunjukkan kode QR secara terpisah.

Meski demikian, THIM tidak menggantikan kewajiban pengajuan visa. Wisatawan yang memerlukan visa tetap harus mengajukannya sesuai aturan yang berlaku.

Aplikasi ini juga tidak menggantikan proses izin tinggal jangka panjang maupun kewajiban pelaporan 90 hari bagi warga negara asing yang diwajibkan.

Ditargetkan Layani 30 Juta Wisatawan

THIM dibangun menggunakan infrastruktur komputasi awan Amazon Web Services (AWS). Sistem ini dirancang mampu menangani lonjakan data selama musim liburan dan menjaga keamanan informasi melalui enkripsi menyeluruh.

Deputy Commissioner Thailand Immigration Bureau, Pratya Prasarnsuk, mengatakan THIM menjadi langkah penting dalam transformasi digital layanan imigrasi Thailand.

"THIM menempatkan Thailand di garis depan transformasi digital sistem imigrasi di Asia Tenggara," ujarnya.

Saat ini aplikasi mendukung empat bahasa: Inggris, Rusia, Jepang, dan Mandarin. Pemerintah Thailand berencana menambah sedikitnya 15 bahasa lain pada tahap pengembangan berikutnya.

Ke depan, THIM akan dikembangkan menjadi layanan imigrasi digital yang lebih lengkap, termasuk pengajuan dokumen, pembuatan janji layanan imigrasi, dan akses layanan darurat Tourist Police selama 24 jam.

>>> Cancel Pesanan GoCar Kini Didenda Rp3 Ribu, Begini Penjelasannya

Pemerintah Thailand menargetkan THIM mampu melayani sekitar 30 juta wisatawan internasional setiap tahun.