Di kamp pengungsian Nuseirat, Gaza tengah, denting alat musik oud masih terdengar di sela-sela puing bangunan yang hancur akibat perang.

Suhail Abu Shawish, seorang perajin oud berusia 60 tahun, memperbaiki alat musik di bengkel sederhana yang dipenuhi palet kayu dan potongan peti bantuan kemanusiaan.

>>> Kemenag Gelar Ta'aruf Golek Garwo, 354 Anak Muda Cari Jodoh

Baginya, memperbaiki oud bukan sekadar mencari nafkah, melainkan cara mempertahankan identitas budaya Palestina di tengah kehancuran.

"Anak-anak muda mulai mengirimkan alat musik mereka kepada saya untuk diperbaiki," kata Abu Shawish kepada AFP.

Ia mulai belajar memainkan oud pada dekade 1980-an dan kemudian menjadi ahli restorasi alat musik tradisional.

Perang memaksanya mengungsi ke Rafah sebelum kembali ke Nuseirat. Kini, tanpa bengkel memadai dan listrik stabil, ia bekerja manual dengan gergaji tangan dan kikir.

"Walaupun kayu sangat langka dan harganya mahal, mereka tetap datang kepada saya," ujarnya.

>>> Karyawan Quantic Dream Mogok Kerja, Tolak PHK 115 Orang dan Selamatkan Star Wars Eclipse

Untuk mengatasi kelangkaan bahan baku, Abu Shawish memanfaatkan potongan kayu bekas dari peti bantuan kemanusiaan dan menggunakan kembali bagian oud yang masih layak.

Harga bahan pendukung seperti lem melonjak dari 20 shekel menjadi 60 shekel, sementara thinner juga semakin mahal.

Krisis listrik memaksanya mengerjakan semua proses secara manual, sehingga perbaikan satu alat musik memakan waktu lebih lama.

Meski sulit, Abu Shawish belum menyerah. Ia berharap situasi di Gaza membaik agar bisa mengimpor kayu, lem, dan bahan lainnya.

>>> Analis: Harga Game Akan Naik Usai GTA 6, Tapi Hanya Game Terpopuler yang Bertahan

"Kami ingin bekerja seperti negara-negara lain, bersaing secara global, dan memproduksi alat musik buatan Palestina, dibuat di Gaza," tuturnya.