Emy menjelaskan bahwa salah satu capaian penting penelitian ini adalah keberhasilan mengintegrasikan berbagai subsistem utama dalam satu rancangan yang komprehensif.

"Inovasi utama dari riset ini adalah keberhasilan mengintegrasikan desain magnet, RF cavity, sumber ion, dan simulasi beam dynamics secara komprehensif.

in1

Hasil pengujian menunjukkan seluruh komponen utama yang telah difabrikasi memiliki karakteristik yang sesuai dengan parameter desain," jelasnya.

Selain itu, tim juga berhasil mengkarakterisasi sumber ion tipe Penning Ion Gauge (PIG) yang menjadi pemasok partikel dalam sistem akselerator.

Pengujian menunjukkan sumber ion tersebut mampu menghasilkan arus ion hidrogen negatif hingga 80 mikroampere, sesuai dengan kebutuhan operasi produksi radioisotop medis.

Riset ini juga mencakup proses penyempurnaan medan magnet (shimming), pengujian RF cavity menggunakan network analyzer, serta verifikasi performa perangkat setelah proses fabrikasi.

Seluruh hasil pengujian menunjukkan kesesuaian yang sangat baik antara rancangan dan performa aktual.

Saat ini, BRIN masih melanjutkan tahapan integrasi sistem serta pengujian berkas partikel sebelum DECY-13 memasuki tahap operasi penuh.

"Pengembangan DECY-13 merupakan fondasi penting bagi penguasaan teknologi akselerator nasional.

>>> Pelatih Timnas Voli Indonesia Puas Usai Lolos ke Final AVC Cup

Ke depan, teknologi ini tidak hanya mendukung kebutuhan radioisotop medis, tetapi juga membuka peluang pengembangan berbagai aplikasi akselerator untuk kesehatan, industri, dan penelitian," pungkas Emy.