Kementerian Pertanian (Kementan) merespons anjloknya harga ayam hidup di tingkat peternak. Penurunan terjadi akibat pasokan yang lebih tinggi dibanding kemampuan serap pasar.

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementan, Hary Suhada, mengatakan hasil pemantauan menunjukkan kondisi pasar unggas saat ini sedang tertekan.

in1

>>> Link Live Streaming Kroasia vs Ghana di Piala Dunia 2026

Pemerintah mengambil sejumlah langkah untuk menahan penurunan harga lebih dalam. Salah satunya mendorong pelaku usaha menyerap ayam hidup (livebird) langsung dari peternak.

Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Nomor B-200/PK. 230/F.

2/06/2026. Surat lain, Nomor B-203/PK.

230/F. 2/06/2026, diterbitkan pada 9 Juni 2026.

"Langkah yang dilakukan pemerintah bertujuan menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan, mendorong perbaikan harga livebird di tingkat peternak, serta menjaga keberlanjutan usaha perunggasan nasional," ujar Hary, Sabtu (27/6).

Hary menekankan pelaksanaan berbagai komitmen yang sudah disepakati perlu terus dikawal dan dievaluasi.

Selain penyerapan livebird, Kementan juga berupaya mengendalikan produksi day old chicken (DOC) final stock (FS) broiler.

>>> Rent-A-Girlfriend Season 6 Resmi Dikonfirmasi, Adaptasi Arc Cohabitation

Menurut Hary, pengaturan ini penting agar rantai usaha perunggasan dari hulu ke hilir berjalan lebih sehat. Keberhasilan menjaga stabilitas sektor perunggasan tidak bisa hanya bergantung pada kebijakan pemerintah.

Dibutuhkan dukungan dan komitmen seluruh pelaku usaha, termasuk integrator, peternak, hingga distribusi. Kementan juga menekankan pentingnya ketersediaan data perunggasan yang akurat dan terintegrasi antara pusat dan daerah.

"Kami berharap terdapat data yang sinkron antara pemerintah pusat dan daerah. Karena itu, kami membutuhkan keterlibatan aktif dinas-dinas terkait," ujar Hary.

Di sisi lain, peternak ayam pedaging mengaku kondisi harga saat ini sudah sangat memprihatinkan.

Peternak dari Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo), Asep Saepudin, menyebut harga ayam sudah merosot hingga Rp 13.000 per kilogram.

"Ini sudah jadi musibah bagi peternak Rp15.000/kg. Di Jabar (Jawa Barat) sudah Rp13.000-Rp14.000/kg.

>>> Record of Ragnarok Season 4 Resmi Diumumkan, Hadirkan Duel Pedang dan Sniper Legendaris

Terburuk ini," ujar Asep pada Sabtu (27/6). Padahal, HPP sudah naik ke Rp 22.000-23.000 per kilogram akibat meningkatnya biaya produksi.