Para ilmuwan akhirnya menemukan penjelasan mengapa babi hutan di Bavaria, Jerman, memiliki tingkat radioaktivitas yang lebih tinggi dibandingkan serigala di zona Chernobyl.

Penelitian yang diterbitkan oleh tim dari Technische University di Austria dan Leibniz University di Jerman mengungkap bahwa kontribusi utama radiasi berasal dari uji coba nuklir era Perang Dingin 60 hingga 80 tahun lalu.

in1

>>> Operasi Cangkok Kandung Kemih Pertama di Dunia Berhasil di UCLA

Temuan ini mengejutkan karena pemerintah saat itu mengklaim uji coba nuklir tidak berdampak signifikan terhadap lingkungan.

Fenomena Paradoks Babi Hutan

Para peneliti bekerja sama dengan pemburu di wilayah terdampak untuk mengumpulkan dan memeriksa sampel daging babi hutan.

Sampel tersebut mengandung kadar cesium-137 dan cesium-135 yang sangat tinggi, sesuai dengan penelitian sebelumnya.

Tim kemudian menggunakan spektrometer massa untuk membedakan sumber radiasi, apakah dari uji coba nuklir atau reaktor Chernobyl.

Hasilnya, kontribusi uji coba nuklir berkisar antara 12% hingga 68% dari total kontaminasi radiasi pada babi hutan.

Fenomena tingginya kadar cesium pada babi hutan disebut sebagai 'paradoks babi hutan'.

>>> Memahami Peran 3 Sektor Utama CISCE 2026 dalam Transisi Energi Hijau

Sementara radioaktivitas pada hewan buruan lain cenderung menurun, kadar pada babi hutan tetap tinggi.

Para peneliti menduga penyebabnya terletak pada pola makan musim dingin babi hutan.

Pada musim dingin, babi hutan banyak mengonsumsi truffle dan jamur bawah tanah yang menyerap radioaktivitas dari lapisan tanah yang lebih dalam.

Seiring waktu, material radioaktif berpindah ke lapisan tanah yang lebih dalam, tempat jamur tumbuh, sehingga babi hutan terus terkontaminasi setiap musim dingin.

Babi hutan (Sus scrofa) adalah mamalia asli Eurasia yang sangat adaptif dan tersebar luas.

>>> Cara Cek Pencairan Bansos PKH dan BPNT 2026 dengan 3 Syarat Utama

Di habitat aslinya, populasi babi hutan dikendalikan oleh predator alami seperti kucing besar, beruang, dan serigala.