Perjalanan Grace tidak mulus. Teknologi terasa asing, cara live dan berbicara di depan kamera bukan hal mudah.

Ia belajar pelan-pelan dengan bantuan anaknya.

in1

>>> HUT DKI, Hotel Borobudur Jakarta Gelar Discover Betawi Art dan Culture

Sebagian produk ia kerjakan sendiri, ada pula barang jadi yang dirangkai dan dijual kembali. Semua dilakukan dari rumah bersama anaknya.

Awalnya Grace berjualan hanya untuk mengisi waktu agar tidak pikun.

Namun seiring waktu, hasil jualan membantu membeli obat dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk untuk suaminya yang membutuhkan bantuan.

"Awalnya memang supaya enggak pikun, ada kegiatan. Tapi berjalannya waktu, ini jadi benar-benar buat beli obat, buat aku.

Sekarang ini juga buat suami," katanya.

Meski sibuk, live jualan membuka ruang sosial baru. Pembeli sering bercerita tentang sakit, ujian, atau meminta didoakan.

"Rasanya senang sekali. Masih bisa berkomunikasi, bisa bantu kasih masukan, bisa bantu doain," ujar Grace.

Komentar tidak menyenangkan juga kerap ia terima. Namun Grace memilih tidak membenci dan tetap memberi nasihat jika bisa.

Ia membayangkan mereka suatu hari bisa sukses dan membanggakan orang tua.

Grace mengajak para lansia untuk tetap bergerak dan berkarya. "Selama masih bisa berdiri di atas kaki, jangan mau malas-malasan.

Ayo kerja. Karena itu bermanfaat untuk diri kita sendiri," pesannya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan. "Selama kita masih ada tenaga, ada kekuatan, tetap yuk kita berkarya aja terus.

>>> Tito Dorong Mahasiswa Unhan NTT Perluas Pilihan Karier

Terutama jaga kesehatannya," pungkasnya.