Yang mencolok adalah bagaimana puisi itu memperoleh makna yang berbeda secara radikal setelah kematian Abbasi.

Teks yang mungkin ditulis sebelum serangan secara retrospektif berubah menjadi bentuk kesaksian kematiannya sendiri.

in1

Sirkulasi ini juga mengungkap bagaimana kesaksian kontemporer semakin terjadi melalui pertemuan digital yang terfragmentasi.

Secara daring, syair Abbasi muncul bersama foto-foto kehidupan sehari-harinya: memegang bunga matahari, bepergian dengan teman, mendaki Gunung Damavand, tersenyum dalam momen biasa yang tiba-tiba terputus oleh perang.

Gambar-gambar itu tidak sekadar mendokumentasikan kematian; mereka merekonstruksi kehidupan.

Puisi dan Politik Emosional Perang

Puisi berkontribusi pada proses ini secara berbeda dari dokumentasi visual.

>>> PowerToys Bakal Punya Fitur Baru untuk Pindah Antar Jendela dalam Satu Aplikasi

Sementara foto sering menangkap peristiwa kehancuran langsung, puisi dapat membangkitkan dimensi emosional dan temporal kekerasan yang sulit divisualisasikan.

Syair Abbasi dipenuhi bukan dengan penggambaran eksplisit konflik militer, melainkan dengan penghilangan, pemudaran, kelelahan, dan transformasi.

Imaji asap dan pembubaran menunjuk pada bentuk ketiadaan yang melampaui pemandangan yang terlihat.

Di sinilah imaji puitis menjadi penting secara politis. Mereka tidak sekadar mengilustrasikan penderitaan; mereka mengundang pembaca untuk menghuni atmosfer afektif ketidakpastian, kerapuhan, dan interupsi.

Seperti dikatakan Jacques Rancière, penonton tidak pernah penerima makna yang pasif. Pembaca secara aktif menyusun asosiasi emosional dan imajinatif dari apa yang mereka temui.

Dalam kasus ini, puisi Abbasi menjadi terjerat dengan duka kolektif, memungkinkan pembaca menghubungkan abstraksi perang dengan kerentanan kehidupan individu.

Yang membuat syair ini signifikan secara politis justru ketidaklangsungannya. Alih-alih mereproduksi adegan kehancuran grafis, puisi mendekati penderitaan melalui metafora dan atmosfer emosional.

Sirkulasi puisi Abbasi setelah kematiannya juga mengubah puisi itu sendiri menjadi situs duka kolektif. Dibagikan berulang kali di platform media sosial, syair-syair itu terjalin dengan foto-foto kehidupannya.