Gempa bumi terjadi setiap hari, namun sebagian besar dalam skala kecil yang tidak terasa. Ketika gempa besar terjadi, dampaknya bisa sangat dahsyat, merenggut ribuan nyawa.

Pada zaman kuno, sebelum ilmu pengetahuan tentang Bumi berkembang, manusia meyakini bahwa makhluk raksasa seperti ular, kura-kura, atau naga yang hidup di bawah tanah menyebabkan gempa.

in1

>>> Kemensos Salurkan Bansos Rp544 M di Sulsel, Logistik Bencana-Sembako

Di Nusantara, masyarakat Jawa dan Bali percaya pada kura-kura raksasa Bedawangnala atau naga pemikul Bumi.

Namun, filsuf Yunani Aristoteles (384-322 SM) dianggap sebagai orang pertama yang memberikan penjelasan ilmiah tentang gempa.

Dalam karyanya Meteorologica, ia berhipotesis bahwa angin yang terperangkap di dalam Bumi berusaha keluar, sehingga menimbulkan guncangan di permukaan.

Aristoteles mengelompokkan gempa bersama petir, badai, dan komet sebagai fenomena atmosfer. Teorinya menjadi rujukan utama hingga abad ke-18.

Gempa Lisbon 1755 Mengubah Segalanya

Pada tahun 1750, Inggris diguncang lima gempa kuat.

Disusul gempa dahsyat dan tsunami di Lisbon, Portugal, pada 1 November 1755 yang menewaskan sekitar 70.000 orang.

Peristiwa itu menandai awal era modern seismologi. Sebelumnya, para cendekiawan hanya merujuk pada Aristoteles dan sumber kuno.

Setelah gempa Lisbon, pendekatan ilmiah modern mulai diterapkan.

>>> Candu yang Mengikat: Apa yang Terjadi pada Otak saat Pakai Narkoba?

Tokoh seperti John Michell di Inggris dan Elie Bertrand di Swiss memelopori pengamatan waktu, lokasi, dan dampak fisik gempa.

Komunikasi global memungkinkan penggabungan data dari berbagai belahan dunia.

Setelah gempa Chile 1822, Maria Graham melaporkan perubahan garis pantai. Hal itu dikonfirmasi oleh Robert FitzRoy dan Charles Darwin setelah gempa Chile 1835.

Grove Karl Gilbert, setelah meneliti patahan gempa Owens Valley 1872, menyimpulkan bahwa patahan adalah ciri utama gempa, bukan sekunder.

Sebelumnya, gempa dianggap akibat ledakan bawah tanah.

Pada akhir 1800-an dan awal 1900-an, penelitian gempa berkembang di Jepang. Seikei Sekiya menjadi profesor seismologi pertama dan menganalisis rekaman seismik secara kuantitatif.

Fusakichi Omori mempelajari laju peluruhan gempa susulan, yang persamaannya masih digunakan.

Abad ke-20 menyaksikan peningkatan minat studi gempa.

>>> Laba Pertamina Trans Kontinental Melonjak 23 Persen Sepanjang 2025

Kontribusi kini datang dari berbagai negara seperti Jepang, AS, Eropa, Rusia, Kanada, Meksiko, Cina, Amerika Latin, Selandia Baru, dan Australia.