Pemadaman listrik bergilir yang terjadi belakangan ini membuat masyarakat khawatir akan keselamatan perangkat elektronik di rumah.

Menanggapi hal itu, dosen Departemen Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dedet Candra Riawan mengimbau masyarakat untuk mengenali langkah-langkah preventif.

in1

>>> Sidang Pansus DPRD Gowa Ungkap Pengakuan Suami Bupati soal Dugaan Perselingkuhan

Mayoritas perangkat rumah tangga saat ini menggunakan komponen sirkuit elektronik yang sensitif terhadap fluktuasi kelistrikan.

Dedet menjelaskan, jika elektronik mengalami siklus mati dan menyala berulang dalam waktu singkat, komponennya akan mengalami stress voltage.

"Meski setiap elektronik dirancang memiliki ambang batas ketahanan, tetap ada titik kerentanan jika dihadapi transisi drastis secara masif," ujarnya, Jumat (26/6/2026).

Secara teknis, ada dua tipologi kerugian akibat pemadaman: kerusakan fisik perangkat dan kegagalan proses.

Pada skala rumah tangga, frekuensi pemadaman yang rapat akan memangkas masa pakai barang.

Sementara pada skala produktif, kerugian finansial terbesar dipicu oleh komputasi berkelanjutan yang tidak memiliki tombol pause.

"Kedipan listrik satu detik saja cukup memutus seluruh algoritma kerja dan memaksa sistem mengulang dari titik nol," ungkap pakar kelistrikan ITS tersebut.

Saat pemadaman, beberapa sektor mungkin memiliki cadangan daya seperti genset. Namun, ada miskonsepsi mengenai kualitas daya genset di masyarakat.

PLN diwajibkan menjaga toleransi tegangan di sisi konsumen pada ambang 5-10 persen dari 220 Volt.

Genset besar di industri dapat memenuhi standar itu, tetapi genset kecil yang lazim digunakan UMKM memiliki keterbatasan mekanis.

>>> 4 Film Terbaik Craig Gillespie yang Layak Ditonton selain Supergirl

"Lonjakan daya pada genset kecil menyebabkan ketidakstabilan tegangan dan frekuensi yang memengaruhi performa elektronik," papar Dedet.