Sebelum resmi mengemudikan bus, Mahatmi harus melewati berbagai tahapan pelatihan.

Selain memperoleh lisensi mengemudi kendaraan besar di Jepang, ia juga diwajibkan menguasai bahasa Jepang agar mampu berkomunikasi dengan penumpang.

in1

Instruktur mengajarkannya berbagai teknik mengemudi hingga cara berbicara kepada penumpang.

"Kalau menekan pedal gas secara perlahan, perjalanan akan terasa lebih nyaman bagi penumpang," ujar instruktur saat memberikan pelatihan.

Mahatmi mengaku cita-citanya menjadi pengemudi kendaraan besar sudah muncul sejak kecil karena terinspirasi anggota keluarganya.

Saat melihat lowongan sopir bus di Jepang, ia langsung merasa kesempatan itu sesuai dengan impiannya.

>>> Google Finance Hadirkan Fitur AI untuk Lacak Portofolio dan Pasar Saham

"Saya sangat bahagia. Ini memang impian saya sejak kecil.

Saat melihat iklannya, saya langsung berpikir, 'Pekerjaan ini untuk saya'," katanya.

Meski dinilai memiliki kemampuan mengemudi yang baik, tantangan terbesar Mahatmi justru datang dari bahasa.

Dalam salah satu sesi latihan, ia sempat kebingungan ketika menghadapi penumpang yang saldo kartu pembayaran elektroniknya tidak mencukupi.

"Saya tidak tahu harus bagaimana. Berkomunikasi dalam bahasa Jepang masih cukup sulit," ujarnya.

Di rumah, Mahatmi rutin mempelajari buku panduan mengemudi dan menghafalkan berbagai kalimat yang umum digunakan saat bekerja, seperti meminta penumpang bergeser ke bagian dalam bus atau memberikan informasi keberangkatan.

Perusahaan bus di Jepang mengakui pelatihan bahasa menjadi salah satu tantangan terbesar dalam mempersiapkan pekerja asing.

Kemampuan berkomunikasi dinilai sangat penting agar pengemudi dapat memberikan informasi saat terjadi keterlambatan, kendala pembayaran, maupun kondisi darurat.

Selain itu, perusahaan juga harus mengeluarkan biaya besar untuk mengenalkan aturan lalu lintas dan sistem jalan di Jepang kepada para pekerja asing.