"Pada kategori berat, itu bisa dia enggak kerja, relapse terus, pakai terus jadi butuh rawat inap," kata Hari.

>>> Babak I: Australia Dominasi Paraguay, Enam Tembakan ke Gawang

in1

Selain itu, ada terapi farmakologi tergantung jenis narkoba yang digunakan.

Meski sudah menjalani rehabilitasi, bukan berarti seseorang yang pernah kecanduan dinyatakan sembuh total. Seperti penyakit kronis lain, kecanduan bisa kambuh, tapi bisa dikontrol.

Hari menjelaskan, pasien bisa beralih ke zat lain untuk menutup dampak adiksi sebelumnya.

Misalnya, pengguna heroin beralih ke obat lain atau alkohol, bahkan bisa beralih ke adiksi perilaku seperti judi online.

Hingga kini belum ada obat atau terapi khusus yang mampu menyembuhkan adiksi. Namun, ada berbagai temuan seperti neuromodulasi, stimulasi otak, dan pengembangan vaksin antiadiksi.

Pentingnya Dukungan Keluarga dan Masyarakat

Rehabilitasi tidak serta merta membuat seseorang tidak kembali terjerumus. Kekambuhan bisa terjadi akibat komunikasi atau dukungan yang minim dari orang terdekat.

"Orang itu seperti diberi label oleh keluarga. Pulang telat sedikit ditanya 'Dari mana?

Abis make ya?' Labeling terus, lalu yang terjadi adalah dia mikir, 'Ah sekalian aja'," jelas Hari.

Faktor pekerjaan juga berkontribusi. Misalnya, pasien pengguna Tramadol dari kalangan pekerja kasar mungkin kembali membutuhkan Tramadol saat bekerja.

Rehabilitasi perlu dibarengi edukasi manajemen nyeri tanpa menyalahgunakan obat.

Hari menekankan, masyarakat harus berhenti memberikan label 'sampah masyarakat' terhadap mantan pengguna narkoba. "Masyarakat harus mulai terbuka.

>>> Hasil Babak I Piala Dunia 2026: Turki Ungguli AS 2-1

Banyak kok yang bisa sukses atau sustain recovery-nya, enggak balik pakai lagi," pungkasnya.