Harapan tercapainya kesepakatan cepat dalam perundingan antara Israel dan Lebanon yang dimediasi Amerika Serikat tampaknya masih jauh dari kenyataan.

Pemerintah Israel menegaskan tidak akan menarik pasukannya dari wilayah Lebanon Selatan selama Hizbullah masih dianggap sebagai ancaman keamanan.

in1

>>> Profil Ginka Febriyanti Br Ginting, Komisaris Muda Pertamina Retail yang Aktif di Relawan

Juru Bicara Pemerintah Israel David Mencer mengatakan keberadaan pasukan Israel di Lebanon Selatan tidak akan berakhir hanya karena proses diplomasi sedang berjalan.

Israel menetapkan satu syarat utama yang harus dipenuhi lebih dulu, yakni pelucutan senjata dan demiliterisasi Hizbullah.

"Kami tidak akan menarik pasukan kami dari Lebanon Selatan selama Hizbullah masih menjadi ancaman, belum dilucuti, dan belum didemiliterisasi," tegas Mencer, dikutip Jumat (26/6).

Pernyataan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa negosiasi yang sedang berlangsung belum tentu berujung pada penarikan pasukan Israel dalam waktu dekat.

Tel Aviv justru menempatkan isu keamanan sebagai prioritas utama sebelum membahas langkah-langkah lain di lapangan.

Keamanan Warga Utara Jadi Prioritas

Mencer menjelaskan pemerintah Israel memiliki tanggung jawab untuk menjamin keamanan warga yang tinggal di wilayah utara negara tersebut.

Karena itu, Israel tidak ingin melihat kelompok bersenjata kembali beroperasi di dekat perbatasan.

"Kami tidak akan membiarkan kekuatan teroris berada di dekat perbatasan kami," ujarnya.

>>> Multitasking: Ilmuwan Ungkap Dampak Sebenarnya pada Otak Anda

Ia menegaskan bahwa setiap pembahasan mengenai reposisi atau penarikan pasukan hanya dapat dilakukan setelah wilayah Lebanon Selatan benar-benar bebas dari pengaruh militer Hizbullah.

Dengan kata lain, bagi Israel, proses demiliterisasi Hizbullah harus menjadi langkah pertama dan bukan konsekuensi dari penarikan pasukan.