Mesir mengungkapkan peran mereka setelah Amerika Serikat dan Iran meneken nota kesepahaman (MoU) yang diharapkan menjadi kerangka untuk mengakhiri perang.

Pernyataan itu disampaikan Duta Besar Mesir untuk Indonesia Yasser Hasan Farag Elshemy di Jakarta, Rabu (23/6), sebelum pembukaan acara peringatan Revolusi Mesir 1952 ke-74.

in1

>>> Prediksi Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: De Oranje Diprediksi Menang Telak

Elshemy mengatakan Mesir telah aktif terlibat sejak hari pertama konflik. Mereka berhasil membuka jalur komunikasi rahasia dengan Iran untuk memfasilitasi pertukaran informasi penting.

"Kami secara konsisten hadir di semua jalur negosiasi bersama mitra di Qatar, Turki, Pakistan, Amerika Serikat, dan Iran," ujar Elshemy di Westin Hotel.

Ia juga menegaskan Mesir berkomitmen mempertahankan peran diplomatik aktif selama fase negosiasi 60 hari ke depan.

Negosiasi dan Dukungan Mesir

MoU AS-Iran mencakup periode negosiasi 60 hari untuk mengakhiri perang. Negosiasi terbaru setelah penandatanganan berlangsung di Burgenstock, Swiss, pekan lalu.

>>> Samsung Hadirkan Tombol Panik di Aplikasi SmartThings untuk Darurat

Beberapa hasil perundingan mencakup pembentukan komite kerja untuk memantau nota kesepahaman hingga urusan nuklir.

Elshemy menekankan posisi Mesir sejak awal perang: secara konsisten memberikan dukungan politik dan militer yang kuat kepada negara-negara Teluk.

"Meskipun kami memahami logika strategis Iran, kami berdiri teguh di belakang saudara-saudara kami di negara-negara GCC.

Keamanan nasional GCC merupakan bagian tak terpisahkan dari keamanan nasional Mesir sendiri," tegasnya.

>>> Galaxy Z Fold 8 Lebih Ringan dan Lipatan Layar Berkurang, Kata Sumber

AS dan Israel menggempur Iran pada akhir Februari, memicu penutupan Selat Hormuz sebagai balasan dari Teheran. Perang berlangsung berbulan-bulan dan membuat Timur Tengah membara.