Tato sering dianggap sekadar gambar di kulit, namun di baliknya terdapat proses biologis yang kompleks.

Mulai dari tusukan jarum, respons imun, hingga penyimpanan tinta di sel kulit, semua berperan membuat tato bertahan bertahun-tahun.

in1

>>> Ricky Gervais: Netflix's Alley Cats Bebas Berekspresi, Padukan Komedi dan Emosi

Tato bukan hanya soal estetika, tetapi juga melibatkan luka mikro dan reaksi tubuh terhadap benda asing.

Tinta Masuk ke Lapisan Kulit yang Lebih Dalam

Menurut National Library of Medicine, tato permanen dibuat dengan jarum yang menusuk kulit berulang kali untuk memasukkan tinta ke lapisan dermis, di bawah epidermis.

Epidermis adalah lapisan kulit terluar yang terus berganti. Jika tinta hanya di epidermis, warnanya akan cepat hilang.

Karena itu, tinta dimasukkan ke dermis yang lebih stabil agar pigmen bertahan lama.

Tubuh Menganggap Tinta sebagai Benda Asing

Meski sengaja dibuat, tubuh tetap membaca tinta sebagai benda asing.

>>> Jadwal Lengkap Anime Expo 2026: Kagurabachi, Black Clover Season 2, Cyberpunk: Edgerunners 2

Sistem imun langsung merespons seperti saat luka kecil, menyebabkan kemerahan, bengkak ringan, nyeri, atau rasa hangat selama penyembuhan.

Sel imun makrofag datang untuk membersihkan partikel tinta.

Penelitian dalam Journal of the American Academy of Dermatology (JAAD) menyebut sebagian pigmen tersimpan di makrofag dan fibroblas, sehingga tinta tidak benar-benar hilang.

Saat makrofag mati, pigmen dilepaskan dan ditangkap makrofag lain. Siklus ini membuat warna tato bertahan lama.

Karena dibuat dengan banyak tusukan jarum, tato memiliki risiko infeksi jika tidak steril.

>>> 6 Aplikasi Penghasil Saldo DANA Tercepat 2026, Cair dalam Hitungan Menit

Tinta terkontaminasi dapat menyebabkan infeksi dan cedera serius karena zat berbahaya masuk ke sistem darah atau limfatik.