Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluapkan kemarahannya setelah Senat meloloskan resolusi yang menyerukan penghentian permusuhan terhadap Iran.

Ia menyoroti bahwa resolusi tersebut turut didukung oleh sejumlah kolega dari Partai Republik. Trump secara terbuka menyebut mereka sebagai "pecundang" karena memilih bergabung dengan senator oposisi.

in1

>>> Polisi Siap Hadapi Gugatan Praperadilan Roy Suryo soal Ijazah Jokowi

"Empat pecundang Partai Republik memilih bersama Demokrat," ungkapnya, dikutip Kamis (25/6).

Empat Senator Republik yang 'Berkhianat'

Kemarahan Trump diarahkan kepada empat senator dari Partai Republik yang memilih mendukung Undang-Undang Kekuatan Perang. Mereka adalah Bill Cassidy, Susan Collins, Lisa Murkowski, dan Rand Paul.

Senat sebelumnya mengesahkan resolusi dengan perolehan 50 suara mendukung dan 48 suara menolak. Dengan hasil tersebut, mereka sukses meloloskan Undang-Undang Kekuatan Perang.

Resolusi itu menginstruksikan presiden untuk menghentikan keterlibatan militer terhadap Iran. Trump hanya bisa melanjutkan perang jika mendapat persetujuan resmi dari Kongres.

>>> Trump Tegaskan Tuntaskan Perang Iran dengan Cara Apa Pun Meski Dihalangi Senat

Meski demikian, dampak hukumnya diperkirakan terbatas menyusul adanya gencatan senjata dan negosiasi yang sedang berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat.

Namun, pengesahan resolusi itu menjadi sinyal politik penting. Langkah tersebut tercatat sebagai penolakan simbolis paling kuat dari Kongres terhadap kebijakan perang Trump.

Sebelumnya, sembilan upaya serupa gagal memperoleh dukungan mayoritas.

>>> Prabowo Targetkan B50 Meluncur Juli 2026, Impor Solar Berakhir

Bagi Trump, dukungan empat senator Republik terhadap resolusi tersebut bukan sekadar perbedaan pendapat politik, melainkan bentuk pengkhianatan dari kubunya sendiri di tengah upaya mempertahankan tekanan terhadap Iran.