Menurutnya, reformasi tata kelola ekspor menjadi penting mengingat Indonesia merupakan salah satu negara penghasil berbagai komoditas strategis dunia, mulai dari minyak kelapa sawit, batu bara, hingga produk logam.

Sementara itu, Direktur Eksekutif PASPI Tungkot Sipayung menyoroti posisi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia yang dinilai belum memiliki pengaruh sebanding dalam pembentukan harga komoditas global.

in1

>>> Cara Cek Pencairan Bansos BPNT 2026 yang Segera Cair dengan Nominal Mencapai 600 Ribu

Ia menyebut harga sawit internasional hingga kini masih banyak dipengaruhi oleh pusat perdagangan dan bursa komoditas yang berada di luar negeri.

Model ekspor yang lebih terintegrasi dinilai berpotensi memperkuat posisi tawar Indonesia.

"Dengan konsolidasi ekspor yang lebih baik, Indonesia tidak hanya menjadi produsen terbesar, tetapi juga berpeluang meningkatkan pengaruh terhadap mekanisme pembentukan harga komoditas global," kata Tungkot.

Menurut dia, penguatan posisi Indonesia dalam rantai perdagangan internasional dapat menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan manfaat ekonomi dari sektor sawit yang selama ini menjadi andalan ekspor nasional.

Pandangan lain disampaikan Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah. Ia menekankan bahwa setiap kebijakan ekspor harus tetap mendukung agenda hilirisasi yang tengah dijalankan pemerintah.

"Penguatan kendali terhadap rantai pasok dan perdagangan komoditas strategis akan meningkatkan daya saing industri nasional di pasar global," ujar Arif.

Ia menilai pengelolaan perdagangan komoditas yang lebih terintegrasi dapat membantu memperkuat industri dalam negeri sekaligus mendukung upaya peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi.

Meski memiliki sudut pandang yang berbeda, para narasumber sepakat bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan posisi strategisnya dalam perdagangan komoditas dunia.

Namun, mereka menilai keberhasilan kebijakan ekspor satu pintu akan bergantung pada sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, lembaga keuangan, dan dukungan regulasi yang jelas.

>>> Kucing Ternyata Bisa Diajak 'Ngobrol' dengan Kedipan Lambat, Ini Kata Ahli

Dengan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki, Indonesia dinilai tidak hanya berpotensi menjadi produsen utama komoditas strategis dunia, tetapi juga memiliki peluang lebih besar untuk memperkuat pengaruh dalam perdagangan global dan meningkatkan nilai tambah bagi perekonomian nasional.