Selama bertahun-tahun, diskusi tentang ketahanan pangan di Indonesia hampir selalu berfokus pada peningkatan produksi. Bibit unggul, pupuk, mekanisasi, dan perluasan lahan menjadi agenda utama.

Namun, panen melimpah tidak otomatis membuat petani sejahtera atau menjamin pasokan pangan nasional. Masalah sering muncul justru setelah panen selesai.

in1

>>> Profil Shaun Evans, Wasit Piala Dunia 2026 yang Diperiksa FIFA Usai Dugaan Gestur Rasis

FAO menekankan bahwa ketahanan pangan tidak hanya soal ketersediaan, tetapi juga distribusi, akses pasar, dan nilai tambah di rantai pasok.

BPS mencatat sektor pertanian masih menopang jutaan rumah tangga.

Hasil pertanian kerap kehilangan nilai karena minimnya fasilitas pengolahan, biaya distribusi tinggi, dan akses pasar terbatas. Keuntungan besar tidak selalu dinikmati petani.

Ketahanan pangan kini memasuki babak lebih kompleks: membangun ekosistem yang menghubungkan produksi, industri, logistik, dan pasar dalam satu rantai nilai.

Gobel Group mewujudkannya melalui investasi di Gorontalo.

Ketahanan Pangan Tak Berakhir di Sawah

Gobel Group identik dengan industri elektronik, namun sejak 1963 pendiri Thayeb Mohammad Gobel mendirikan PT Pabrik Diesel dan Traktor (Paditraktor).

>>> Alasan Mengejutkan John Herdman Belum Nonton Piala Dunia 2026

Perusahaan itu menghadirkan alat mekanisasi pertanian seperti traktor dan pengering gabah.

Warisan itu berkembang. Jika dulu tantangannya meningkatkan hasil panen, kini tantangannya adalah nilai tambah untuk kesejahteraan masyarakat.

Gobel Group mulai membangun mata rantai berikutnya: kawasan industri, pelabuhan internasional, akses pasar global, dan kemitraan industri pengolahan.

Pendekatan ini diperkenalkan dalam PENAS Petani Nelayan XVII 2026 di Gorontalo.

“Ketahanan pangan memerlukan ekosistem yang menghubungkan petani dengan teknologi, infrastruktur, industri hilir, logistik efisien, dan akses pasar berkelanjutan,” ujar Chairman Gobel Group, Rachmat Gobel.

>>> Prabowo Dukung Penuh Timnas Hadapi Kualifikasi Piala Dunia 2030

Pernyataan itu menunjukkan ketahanan pangan bukan lagi persoalan sektoral, melainkan sistem yang saling terhubung dari hulu ke hilir.