Hasil Uji Coba pada Tikus

Tim pertama menguji perangkat pada jaringan retina tikus yang diisolasi untuk memastikan tidak ada kerusakan sel.

>>> Gen Z Paling Berani Minta Naik Gaji, Gen X Cenderung Menerima Nasib

in1

Selanjutnya, mereka mengimplan pada tikus hidup, baik yang sehat maupun yang mengalami degenerasi retina.

Hasilnya, melalui rekaman otak dan tes perilaku, menunjukkan bahwa tikus yang diimplan dapat merasakan cahaya inframerah dekat di samping cahaya tampak biasa.

Tikus buta dengan fotoreseptor yang rusak mendapatkan kembali respons fungsional terhadap dunia melalui sel ganglion yang tersisa.

Sementara itu, tikus sehat tetap memiliki penglihatan normal dan memperoleh sensitivitas inframerah tambahan.

Jalan Menuju Aplikasi pada Manusia

Perangkat ini masih dalam tahap uji coba hewan awal. Masih ada hambatan signifikan sebelum dapat digunakan secara klinis pada manusia.

Peneliti harus mengevaluasi biokompatibilitas jangka panjang dan ketahanan elektroda logam cair di dalam mata hidup selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Pertanyaan mendasar lain adalah bagaimana otak manusia akan menafsirkan aliran informasi yang tidak biasa ini.

Tikus dapat menunjukkan persepsi melalui respons perilaku terhadap rangsangan inframerah, tetapi memahami apa yang akan dialami seseorang secara sadar adalah masalah yang berbeda.

Mungkin akan terlihat seperti sensasi warna yang berbeda, hamparan pada penglihatan yang ada, atau sesuatu yang lain sama sekali.

Jawabannya baru akan diketahui setelah uji coba pada manusia dimulai.

Jika teknologi ini berhasil, implan retina tidak akan memaksa pasien memilih antara melindungi sisa penglihatan dan menambahkan kemampuan baru.

>>> 5 Alternatif iPhone 17 Pro dengan Nilai Lebih di Harga Sama

Orang dengan kehilangan penglihatan sebagian dapat mempertahankan penglihatan alami mereka sambil mendapatkan akses ke panjang gelombang cahaya yang biasanya tidak terlihat oleh manusia.