Pekerja Gen Z menjadi kelompok yang paling berani membicarakan kenaikan gaji dengan atasan. Sebaliknya, pekerja senior dari generasi X cenderung menerima keadaan.

Laporan Salary Pulse 2026 dari Jobstreet by SEEK mengungkapkan bahwa 60% Gen Z memulai sendiri diskusi soal kenaikan gaji.

in1

>>> 5 Alternatif iPhone 17 Pro dengan Nilai Lebih di Harga Sama

Angka ini lebih tinggi dibandingkan milenial (55%) dan Gen X (37%).

Managing Director Indonesia Jobstreet by SEEK Wisnu Dharmawan mengatakan, keberanian Gen Z menjadi temuan paling menarik dalam survei tersebut.

"Gen Z ini untuk memulai percakapan, mereka paling berani," ujarnya di Jakarta, Selasa (23/6/2026).

Kondisi ini berbanding terbalik dengan Gen X. Padahal, kelompok senior tersebut justru lebih banyak yang merasa gajinya belum memadai.

"Gen X ini kebanyakan ngedumel kali ya. Cuma omong-omong saja waktu makan siang, tapi tidak berani bilang langsung," kata Wisnu.

Survei menunjukkan hanya 41% Gen X yang merasa digaji layak. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Gen Z dan milenial yang sama-sama 49%.

Padahal secara pendapatan, Gen X justru memiliki penghasilan relatif lebih tinggi.

Hampir separuh (49%) pekerja Gen X bergaji di atas Rp8 juta per bulan, di atas rata-rata pasar 43%.

Wisnu menilai kondisi ini dipengaruhi persepsi ketidakadilan saat membandingkan tanggung jawab besar dengan rekan kerja yang lebih sedikit pengalaman.

>>> Jelang Peluncuran, B50 Diklaim Bahlil Lebih Unggul dari Biosolar

Gen X juga menjadi kelompok yang paling tidak nyaman meminta kenaikan gaji.

Sebaliknya, Gen Z yang rata-rata berada di tahap awal karier lebih percaya diri menyuarakan keinginan. Sebanyak 60% Gen Z mengaku nyaman meminta kenaikan gaji.