Sejumlah pejabat Amerika Serikat dibuat sibuk menenangkan publik dan pejabat Israel yang gelisah akibat kesepakatan sementara AS-Iran untuk mengakhiri perang.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengkritik keras langkah AS yang menyepakati nota kesepahaman (MoU) dengan Iran sebagai upaya melanjutkan perundingan.

in1

>>> 3 Keutamaan Puasa Tasua dan Asyura di Bulan Muharram

Netanyahu dan banyak warga Israel khawatir MoU tersebut justru akan memperkuat Iran, yang mereka anggap sebagai musuh paling berbahaya.

Israel juga menilai kesepakatan itu dapat membatasi kemampuannya merespons ancaman dari milisi Hizbullah sekutu Iran di Lebanon.

Di saat yang sama, mereka merasakan aliansi dengan AS yang menjadi fondasi strategi keamanan Israel sedang menghadapi tekanan.

Jajak pendapat menunjukkan semakin banyak warga AS yang tidak puas terhadap Israel, sementara pendukung terkuat Israel di Washington mulai menjaga jarak.

Kekhawatiran di Kalangan Israel

Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, mengatakan ada "tingkat kecemasan yang sangat besar mengenai hubungan tersebut" dalam pernyataannya pada Minggu (21/6).

Pernyataan itu disampaikan dalam Konferensi Kebijakan Internasional JNS di Yerusalem, di mana kekhawatiran hubungan AS-Israel mendominasi pertemuan.

Komentator konservatif Fox News, Mark Levin, tetap memuji Trump atas kesepakatan itu meskipun ia tidak menyukai MoU karena meyakini "rezim Iran" harus dihancurkan.

>>> DPRD Solo: Baliho Ulang Tahun Jokowi Berpotensi Menyalahi Anggaran

Warga Israel juga cemas dengan desakan Trump agar Israel menyetujui gencatan senjata dengan Hizbullah di Lebanon.

Dalam beberapa pekan terakhir, Trump dilaporkan menyebut Netanyahu "gila" dan menegur Israel dengan mengatakan "Anda tidak perlu merobohkan sebuah apartemen setiap kali sedang mencari seseorang".

Wakil Presiden AS, JD Vance, juga makin terang-terangan menegur Netanyahu dan pejabat Israel yang mengkritik MoU AS-Iran.