Sebuah kecelakaan pengisian bahan bakar di udara pada Juli 2025 mengakibatkan boom pengisian bahan bakar pesawat tanker KC-46A Pegasus terlepas dan jatuh ke Samudra Atlantik.

Laporan investigasi yang dirilis pekan lalu menyalahkan operator boom yang memberikan tekanan berlebihan pada kontrol saat pilot pesawat tempur melakukan pendekatan yang tidak stabil.

in1

>>> RUU Veteran AS Berpotensi Kurangi Kompensasi Tinnitus untuk Biayai Manfaat Lain

Kesalahan Operator dan Pilot

Menurut laporan, penyebab utama kecelakaan adalah input kontrol manual operator boom yang menyebabkan boom tersangkut di port bahan bakar F-22.

Akibatnya, boom mengalami 'unrecoverable fly-up rate' saat terlepas, menghantam badan tanker dan putus.

Operator boom adalah instruktur dengan 1.012 jam terbang di tanker Angkatan Udara, sementara pilot F-22 adalah siswa dengan hanya 13 jam terbang di jet tempur tersebut.

Pilot siswa kesulitan terhubung dengan tanker dan mendekat terlalu cepat, gagal memperhitungkan karakteristik boom KC-46 yang kaku.

>>> Program Stabilisasi SMA Bantu Prajurit Bertahan di TNI Tanpa Pindah Tugas

Masalah Desain yang Berulang

Laporan juga mencatat bahwa masalah desain yang dikenal sebagai 'nozzle binding' turut berperan, meskipun bukan penyebab utama.

Cacat ini telah menyebabkan empat kecelakaan di udara sejak 2022, termasuk dua insiden di mana boom terlepas total.

Pada 2022, dua insiden nyaris celaka terjadi ketika probe bahan bakar KC-46 tersangkut sebelum akhirnya lepas.

Kerusakan akibat kecelakaan Juli 2025 mencapai hampir $10 juta, sementara tiga kecelakaan sebelumnya menimbulkan kerugian gabungan $22 juta.

>>> Harga Pangan 22 Juni 2026: Cabai Rawit Merah Melonjak Paling Tinggi

Laporan GAO baru-baru ini juga menemukan bahwa kekurangan pada sistem bahan bakar KC-46 masih menjadi masalah besar bagi kesiapan tempur Angkatan Udara.