Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memperkirakan harga daging global, terutama daging sapi dan ayam, akan tetap tinggi sepanjang tahun 2026.

Lonjakan harga ini dipicu oleh kuatnya permintaan impor dan kendala pasokan dari negara-negara eksportir utama.

in1

>>> Vinicius Junior Akui Pentingnya Instruksi Ancelotti untuk Perkembangannya

Faktor lain yang memperparah situasi adalah penyebaran penyakit hewan serta ketegangan geopolitik yang belum mereda.

Berdasarkan Indeks Harga Daging FAO, harga daging dunia rata-rata mencapai 130,5 poin pada Mei 2026.

Angka tersebut melesat 4,5% sejak Januari 2026 dan 6,3% lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan produksi daging dunia pada 2026 diperkirakan lesu, hanya naik 1,0% secara tahunan menjadi 391 juta ton.

FAO mencatat harga daging sapi global melonjak 5,8% dari Januari hingga Mei 2026.

Lonjakan ini dipicu menipisnya stok sapi siap potong di Brasil yang mengerek harga ekspor mereka.

Sementara itu, Amerika Serikat terus menambah pasokan dari luar karena stok dalam negeri terbatas selama pemulihan populasi ternak.

Permintaan impor China juga melonjak tajam seiring cepatnya pengisian kuota di bawah kerangka pengamanan baru.

Dampak Konflik Geopolitik pada Jalur Logistik

Kenaikan harga juga terjadi pada daging babi (5,2%) dan daging domba (3,6%).

>>> Kemendikdasmen: Transformasi Pendidikan Tingkatkan Kualitas Sekolah di Wilayah 3T

Penyusutan jumlah kawanan ternak di Oseania menjadi penyebab terbatasnya pengiriman ekspor domba.

Harga daging unggas hanya naik tipis 1,4% karena pasokan global melimpah dan siklus produksi cepat.

Namun, jalur distribusi perdagangan unggas mulai terancam konflik geopolitik.

Kuatnya ekspor Brasil ke Afrika mampu menutupi lesunya penjualan ke Timur Tengah.

Konflik bersenjata di Timur Tengah mengacaukan jalur logistik dan memaksa kapal memutar via Laut Merah dengan biaya tinggi.

FAO memperingatkan prospek industri daging sepanjang tahun ini masih dihantui risiko penurunan produksi yang besar.

Penularan wabah penyakit hewan dan ketegangan geopolitik dipastikan memicu lonjakan biaya produksi.

Kondisi ini berpotensi menggerus margin keuntungan peternak secara global.

>>> Ketahui Perbedaan Sepatu Lari dan Sepatu Jalan Kaki Agar Tidak Cedera

Dampak jangka panjangnya, harga daging di tingkat konsumen global akan sulit turun dalam waktu dekat.