Alih-alih beralih ke kerang Mediterania yang terancam punah, mereka mempelajari Atrina pectinata, kerang pena yang sudah dibudidayakan untuk makanan di perairan pesisir Korea.

Seperti Pinna nobilis, kerang ini menghasilkan benang byssus. Serat tersebut membantunya menempel pada permukaan, tetapi dalam sistem pangan biasanya dianggap limbah.

in1

Di situlah penemuan ini memiliki sisi praktis.

Para peneliti menemukan bahwa serat kerang pena sangat mirip dengan sutra laut tradisional, baik secara fisik maupun kimia.

Dengan mengolah byssus yang dibuang itu, mereka menciptakan kembali serat emas dengan tampilan bahan kuno, tanpa perlu memanen spesies yang terancam punah.

Tim POSTECH menemukan bahwa warna emas berasal dari pewarnaan struktural, fenomena di mana struktur internal kecil memantulkan dan memanipulasi cahaya.

Para peneliti mengidentifikasi struktur protein bola yang disebut "photonin", tersusun berlapis-lapis yang membantu menciptakan kilau khas serat.

Pikirkan gelembung sabun atau sayap kupu-kupu. Warnanya tampak cerah, tetapi tidak sekadar berada di permukaan seperti tinta di kertas.

Pada sutra laut, cahaya menyatu ke dalam serat, yang membantu menjelaskan mengapa bahan tersebut dapat mempertahankan warnanya selama berabad-abad, dan menurut temuan studi, mungkin jauh lebih lama.

Produksi tekstil diperkirakan bertanggung jawab atas sekitar 20% polusi air bersih global, terutama dari pewarnaan dan penyelesaian akhir, menurut Parlemen Eropa.

UNEP juga memperingatkan bahwa mode dan tekstil menyumbang 2% hingga 8% emisi gas rumah kaca global, sementara menggunakan air dalam jumlah besar dan membawa jejak kimia yang cukup besar.

Dengan mendaur ulang byssus kerang pena yang dibuang, para ilmuwan berhasil menciptakan kembali sutra laut kuno, membuka jalan bagi tekstil masa depan yang berkelanjutan dan bebas pewarna.