Selama berabad-abad, sutra laut terdengar terlalu aneh untuk menjadi nyata—benang emas yang ditarik dari laut, cukup ringan hingga terasa tidak nyata, dan langka hingga dikaitkan dengan kaisar, paus, dan relik suci.

Kini, para peneliti di Korea Selatan mengklaim telah menciptakan kembali serat emas yang mirip dengan sutra laut kuno menggunakan kerang pena (Atrina pectinata), sejenis kerang yang dibudidayakan di perairan pesisir Korea.

in1

>>> Transmart Full Day Sale: Diskon Elektronik hingga 50+20 Persen

Kisah yang lebih besar bukan hanya bahwa bahan legendaris itu kembali. Melainkan bahwa warnanya berasal dari struktur serat itu sendiri, bukan dari pewarna, pigmen, atau logam.

Di dunia mode yang masih bergulat dengan polusi, penggunaan air, dan limbah, detail itu bisa menjadi penting jauh melampaui etalase museum dan sejarah barang mewah.

Kain Langka Kembali

Sutra laut sering disebut sebagai "serat emas dari laut".

Secara tradisional, bahan ini dibuat dari benang byssus Pinna nobilis, kerang Mediterania besar yang menggunakan serat tersebut untuk menempel pada bebatuan.

Bahan ini terkenal karena kilau emasnya yang hangat, bobot ringan, dan daya tahan.

Salah satu benda paling terkenal yang terkait dengannya adalah Wajah Suci Manoppello, relik keagamaan yang disimpan di Italia selama berabad-abad dan diyakini sebagian orang terbuat dari sutra laut.

Namun, ada masalah. Pinna nobilis kini terancam punah, dan Uni Eropa telah melarang pemanenannya.

Itu berarti sutra laut asli menjadi sangat langka, hanya diproduksi dalam jumlah kecil oleh segelintir pengrajin.

Kerang Pena Korea

Tim POSTECH yang dipimpin Profesor Dong Soo Hwang dan Profesor Jimin Choi mencari jalan lain.