China Masih Dominasi

Menurut perkiraan Badan Energi Internasional, China menyumbang 60% produksi tambang global rare earth magnet pada 2024 dan 91% produksi olahan global.

Pangsa China mencapai 94% dalam produksi magnet permanen sinter, yang menjadi titik kemacetan utama.

in1

Rare earth bukan sekadar komoditas biasa; mereka berada di dalam komponen kecil yang membuat mesin modern bergerak, berbelok, memindai, dan berkomunikasi.

China menambahkan kontrol ekspor pada barang rare earth menengah dan berat tertentu pada April 2025, dengan alasan keamanan nasional dan nonproliferasi.

Sejak itu, pembeli AS semakin mencari alternatif yang andal, terutama setelah laporan bahwa akses ke beberapa mineral kritis dari China masih sulit karena kontrol dan penundaan lisensi.

Afrika masih memiliki potensi besar.

IMF menyebut kekayaan mineral kritis di kawasan itu dapat membantu membangun industri pemrosesan, bukan sekadar ekspor bahan mentah, jika negara-negara dapat menangkap lebih banyak nilai di dalam negeri.

Beberapa proyek rare earth Afrika mulai maju.

>>> Pakar Sorot Masalah RAPBN 2027: Anggaran K/L Tercekik Demi Program Prioritas

Lindian Resources mengatakan proyek Kangankunde di Malawi sudah mendapat izin penuh, didanai penuh, dalam konstruksi, dan menargetkan produksi pertama pada akhir 2026.

Pensana mengatakan proyek Longonjo di Angola telah memiliki lisensi dan izin penuh, dengan konstruksi sesuai jadwal untuk produksi pertama pada 2027.

Waktu itu tidak kebetulan.

Berdasarkan aturan pengadaan pertahanan AS DFARS 252.225-7052, pembatasan akan diperluas pada 1 Januari 2027 untuk bahan magnet tertentu dan rantai pasokan yang terkait dengan China dan negara tercakup lainnya.

Namun, risiko mengubah investasi.

Mineral tidak berpindah dari deposit ke pabrik pertahanan secara ajaib; jalan, pelabuhan, listrik, izin, pembiayaan, keamanan, pabrik pemrosesan, dan perlindungan lingkungan harus selaras.