Krisis keuangan yang melanda Megabox JoongAng, salah satu jaringan bioskop terbesar di Korea Selatan, memicu kekhawatiran di industri film setempat.

Para pembuat film dan distributor memperingatkan bahwa dampaknya tidak hanya terbatas pada satu jaringan bioskop.

in1

>>> Re:ZERO Season 4 Kembali Puncaki Ranking Mingguan untuk Kedelapan Kalinya

Megabox merupakan salah satu dari tiga operator multiplex utama di Korea, bersama CGV dan Lotte Cinema.

Melalui divisi Plus M Entertainment, perusahaan ini juga menjadi pemain kunci dalam investasi dan distribusi film.

Pada 12 Juni lalu, Megabox JoongAng bersama lima afiliasi JoongAng Group mengajukan restrukturisasi perusahaan ke Pengadilan Kebangkrutan Seoul.

Langkah ini diambil beberapa hari setelah JTBC, stasiun televisi utama grup tersebut, menyatakan gagal bayar utang sebesar 20,6 miliar won (sekitar Rp 240 miliar).

Meskipun bioskop Megabox masih beroperasi normal, pengajuan restrukturisasi telah mengguncang industri.

Seorang pejabat dari perusahaan film setempat yang enggan disebutkan namanya mengatakan, "Jika Megabox mengalami kesulitan serius, dampaknya tidak akan berhenti di bioskop.

Distributor, perusahaan produksi, firma pemasaran, bahkan kru film bisa terpengaruh. Seluruh ekosistem saling terhubung."

Salah satu kekhawatiran langsung adalah pembayaran penyelesaian antara bioskop dan distributor.

Pejabat lain mengungkapkan kecemasan apakah distributor dan produser akan terus menerima pembayaran tepat waktu seiring berjalannya proses pengadilan.

"Ada banyak ketidakpastian di industri saat ini. Orang-orang khawatir apakah pembayaran akan berjalan normal dan apakah proyek masa depan akan terpengaruh," ujarnya.

>>> Mistress Kanan Is Devilishly Easy Season 2 Resmi Diumumkan

Kekhawatiran ini muncul di tengah perjuangan bisnis bioskop Korea melawan perubahan kebiasaan menonton.

Menurut Korean Film Council, total pendapatan bioskop mencapai 1,05 triliun won pada 2025, turun 12,4 persen dari tahun sebelumnya.