PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) melakukan restrukturisasi besar-besaran terhadap anak usahanya, PT Alfa Retailindo (ARA).

Langkah ini bertujuan memperkuat lini bisnis internasional melalui masuknya Grand itsupply Worldwide Inc (GWI) sebagai pemegang saham strategis.

in1

>>> TREASURE Rilis Lagu IF I dalam Mini Album NEW WAV

Transaksi ini mengubah komposisi kepemilikan saham ARA.

Kepemilikan AMRT terdilusi dari 100 persen menjadi 49 persen, sementara GWI menjadi pemegang saham mayoritas sebesar 51 persen setelah mengambil alih 49,75 juta saham baru senilai sekitar US$ 40,63 juta.

Dana dari peningkatan modal tersebut digunakan ARA untuk mengakuisisi 10 persen saham Alfamart Trading Philippines, Inc. (ATP) dari GWI senilai US$ 10,53 juta.

Dengan demikian, kepemilikan ARA di ritel Filipina naik menjadi 45 persen.

Selain di Filipina, ARA juga membeli 70,02 persen saham Alfamart Bangladesh Limited (ATB) dari GWI senilai 220,75 juta Taka Bangladesh.

Langkah ini menjadikan ARA sebagai pemegang saham mayoritas dan pengendali operasional di Bangladesh.

>>> Maroko Kalahkan Skotlandia 1-0, Gol Saibari Bawa Tim ke Puncak Grup C

Total nilai seluruh transaksi berada di bawah ambang batas 20 persen dari ekuitas AMRT per akhir 2025 yang tercatat sebesar Rp 19,38 triliun.

Manajemen AMRT menyatakan bahwa rangkaian transaksi ini merupakan bagian dari peta jalan perusahaan untuk memperkuat peran ARA sebagai lini bisnis utama yang memiliki daya saing dan kapasitas pertumbuhan di pasar internasional.

Langkah ekspansi regional ke Filipina dan Bangladesh dinilai analis menunjukkan bahwa AMRT mulai memasuki fase pertumbuhan baru setelah pasar domestik dinilai relatif matang.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, mengatakan dampak yang lebih berarti berpotensi terlihat dalam jangka menengah hingga panjang apabila operasional di kedua negara mampu berkembang sesuai target.

Ia menambahkan bahwa investor perlu melihat sentimen ini dari sisi penguatan modal tanpa membebani neraca AMRT langsung.

Meskipun demikian, risiko eksekusi lintas negara seperti regulasi dan persaingan lokal tetap ada.

>>> Pesta Timuran Jaksel Hadirkan Puluhan Musisi Indonesia Timur

Risiko utama yang perlu dicermati berasal dari perlambatan daya beli, kenaikan biaya operasional, serta potensi volatilitas pada fase awal ekspansi internasional.