Dari stasiun ini, pelanggan dapat menjangkau Kota Lama Semarang, Lawang Sewu, kawasan Simpang Lima, serta menikmati lumpia, tahu gimbal, bandeng presto, wingko babat, dan aneka kuliner khas lainnya.

Di Cepu dan Bojonegoro, perjalanan KA Argo Anjasmoro menyentuh kota-kota dengan denyut ekonomi lokal yang dekat dengan masyarakat.

in1

Pelanggan dapat melanjutkan perjalanan menuju kawasan kuliner, pasar, wisata alam, sentra produk lokal, atau agenda keluarga.

Perjalanan kemudian berakhir di Surabaya Pasarturi, salah satu pintu masuk utama ke Kota Surabaya.

Dari stasiun ini, pelanggan dapat menjangkau kawasan Tunjungan, Kota Lama Surabaya, Tugu Pahlawan, pusat kuliner, kawasan bisnis, pusat belanja, serta menikmati rawon, rujak cingur, lontong balap, tahu tek, dan oleh-oleh khas Surabaya.

“Setiap kota pemberhentian KA Argo Anjasmoro punya daya tarik sendiri.

Ada kota dengan kuliner kuat, ada kota batik, ada kota heritage, ada kota pesisir, ada kota yang dekat dengan kegiatan bisnis dan keluarga.

Perjalanan ini membuat pelanggan bisa menikmati banyak wajah Jawa dengan cara yang lebih nyaman,” kata Anne.

Anne menambahkan, KA Argo Anjasmoro juga memberi manfaat bagi aktivitas ekonomi di sekitar stasiun.

Ketika pelanggan naik dan turun, ada aktivitas lanjutan yang ikut tumbuh, mulai dari warung makan, pedagang minuman, toko oleh-oleh, pengemudi transportasi lanjutan, penginapan, hingga pelaku UMK di sekitar destinasi.

“Bagi pelanggan, satu perjalanan bisa berarti liburan, pekerjaan, atau pulang menemui keluarga.

Bagi pelaku usaha kecil, hadirnya pelanggan membuka peluang dagangan terbeli, produk lokal dikenal, dan ekonomi sekitar stasiun ikut hidup,” ujar Anne.

KAI mengajak masyarakat menjadikan perjalanan akhir pekan dengan KA Argo Anjasmoro sebagai pengalaman yang ceria dan terencana.