Berjuang Hingga Dini Hari, Ojol di Makassar Ungkap Pahitnya Data Pertumbuhan Ekonomi
Jarum jam hampir menunjuk pukul 23.00 Wita ketika layar ponsel yang terpasang di setang motor Ridwan kembali menyala.
Bukan pesanan baru, hanya notifikasi biasa.
>>> Jepang Hajar Tunisia 2-0 di Babak Pertama Piala Dunia 2026
Di sebuah kedai kopi 24 jam di Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, pemuda 22 tahun itu menunggu sambil sesekali melirik aplikasi.
Sudah beberapa menit, belum ada order masuk.
"Kalau sekarang memang agak sepi," ucapnya, Sabtu, 20 Juni 2026.
Ridwan sudah terbiasa dengan malam-malam panjang seperti itu. Sejak 2021, tak lama setelah lulus SMA, ia menjadi pengemudi ojek online.
Saat itu pandemi Covid-19 belum sepenuhnya berlalu dan lapangan kerja semakin sulit ditemukan. Apa yang awalnya dianggap pekerjaan sementara ternyata menjadi satu-satunya sumber penghasilan hingga hari ini.
"Bukan karena cita-cita jadi ojol. Memang tidak ada pilihan lain, sementara kita butuh makan," ujarnya.
Setiap hari, rutinitasnya nyaris sama. Pukul 08.00 pagi ia mulai menerima pesanan penumpang maupun layanan antar barang dan makanan.
>>> OJK: Arah Revisi Rencana Bisnis Bank 2026 Baru Terlihat Juli
Menjelang siang, sekitar pukul 13.00 Wita, ia pulang sejenak ke rumahnya di Maros untuk beristirahat. Namun waktu istirahat itu tidak berlangsung lama.
Menjelang magrib, Ridwan kembali menyalakan motornya dan masuk ke jalanan Makassar. Ia baru benar-benar berhenti bekerja sekitar pukul 03.00 dini hari.
Artinya, hampir 14 jam dalam sehari dihabiskan untuk mengejar pesanan. Semua itu dilakukan demi membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Meski bekerja belasan jam, penghasilannya tidak selalu sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Pendapatan harian sering kali tergerus biaya operasional dan sepinya jumlah pesanan.
Data BPS: Mayoritas Pekerja di Sektor Informal
Kisah Ridwan mencerminkan realitas banyak pekerja di Sulawesi Selatan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan 63,13 persen pekerja di provinsi ini berada di sektor informal tanpa kepastian perlindungan ketenagakerjaan.
>>> Jerman Bungkam Pantai Gading 2-1, Denis Undav Jadi Penentu di Injury Time
Sektor informal memang menjadi penampung tenaga kerja saat lapangan formal terbatas. Namun, tanpa jaminan sosial dan pendapatan yang stabil, pekerja seperti Ridwan harus berjuang ekstra setiap hari.
Update Terbaru
Penjelasan Ending My Royal Nemesis, Drakor Romcom Lim Ji Yeon dan Heo Nam Jun
Minggu / 21-06-2026, 14:56 WIB
Timnas Tunisia Tersingkir dari Piala Dunia 2026 Usai Dibantai Jepang
Minggu / 21-06-2026, 14:56 WIB
Google Doodle Rayakan Hari Musik Dunia dengan Visualisasi Dangdut
Minggu / 21-06-2026, 14:52 WIB
Wasekjen PBNU: Adab Harus Jadi Penuntun Musyawarah NU
Minggu / 21-06-2026, 14:52 WIB
Kementerian Ekraf: UMKM Bakery Tumbuh, Buka Peluang Usaha
Minggu / 21-06-2026, 14:51 WIB
Viral Pacar Sarwendah Diduga Pakai Jam Patek Philippe Palsu, Ini Cara Bedakan Asli dan KW
Minggu / 21-06-2026, 14:48 WIB
Grammy Awards Tambah Kategori Best Asian Pop Music Mulai 2027
Minggu / 21-06-2026, 14:48 WIB
PLN Pastikan Pemulihan Listrik Pascagempa Sulteng Capai 100 Persen
Minggu / 21-06-2026, 14:46 WIB
Hari Musik: Duo Musisi Ciptakan Lagu Spontan dari Curhatan Pelintas MRT
Minggu / 21-06-2026, 14:46 WIB
Giorgio Antonio Diduga Pakai Jam Patek Philippe Palsu, Ini Ciri Pembeda
Minggu / 21-06-2026, 14:46 WIB
Sekda Bali Dorong Ajang Lari Alam Berpindah Lokasi Wisata
Minggu / 21-06-2026, 14:44 WIB
Anggota DPR Desak Polisi Segera Tangkap Pelaku Penyekapan di Bandung
Minggu / 21-06-2026, 14:44 WIB
Festival Daur Ulang Langkah Membumi Bertransformasi Jadi Market Interaktif
Minggu / 21-06-2026, 14:41 WIB
I.League Siapkan League Cup sebagai Pengganti Piala Indonesia
Minggu / 21-06-2026, 14:41 WIB






