Keinginan tampil awet muda semakin tinggi, namun banyak orang enggan menjalani perawatan yang menyakitkan. Akibatnya, tren perawatan kecantikan non-bedah kian populer.

Fenomena ini terjadi hampir di seluruh dunia.

in1

>>> 4 Pompa Air untuk Sumur Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Stabil

Survei International Society of Aesthetic Plastic Surgery (ISAPS) 2024 mencatat lebih dari 20,5 juta prosedur non-bedah dilakukan sepanjang tahun lalu.

Jumlah tersebut mendominasi total 38 juta prosedur estetika secara global. Beberapa treatment populer meliputi suntikan botulinum toxin, filler hyaluronic acid, pengencangan kulit non-bedah, dan chemical peeling.

Menurut laporan ISAPS, penggunaan filler hyaluronic acid meningkat 56,4 persen dibandingkan 2020. Sementara chemical peel naik lebih dari 100 persen dalam periode yang sama.

Masyarakat kini tidak hanya mengejar perubahan drastis, tetapi juga menginginkan perawatan praktis dengan hasil alami.

Dokter spesialis kulit Dendy Engelman mengatakan tren estetika bergeser dari tampilan berlebihan ke hasil natural.

>>> Netmarble Rilis Game of Thrones Kingsroad Versi Mobile di Server SEA

Pasien lebih tertarik pada perawatan yang menjaga kualitas kulit dan memperlambat penuaan, bukan mengubah bentuk wajah secara ekstrem.

Meski demikian, treatment non-bedah tetap memiliki risiko jika tanpa pengawasan tenaga medis kompeten.

Peningkatan jumlah perawatan juga diiringi kebutuhan tindakan koreksi akibat hasil tidak sesuai harapan atau komplikasi. Pemilihan dokter dan fasilitas kesehatan menjadi faktor penting.

Head Dongbang Medical Global (DMG) Roy Seo menekankan peran dokter dalam menghubungkan inovasi teknologi dengan kebutuhan pasien. Hal ini disampaikan dalam acara AMUSE 2026 di BSD, Tangerang.

>>> Harga Emas Antam 21 Juni 2026 Stagnan di Level Rp2.668.000

Roy menambahkan, perkembangan teknologi estetika harus seiring dengan peningkatan kompetensi tenaga medis. Tujuannya agar pasien memperoleh manfaat optimal dan tetap aman.