>>> Rekor Hujan Es Terbesar Sejak 1950, Frekuensinya Meningkat Akibat Pemanasan Global

Jika membuat rak makanan selama dua hari, Rp250 ribu masuk ke dompetnya.

in1

Ia bahkan sempat ikut saudaranya bekerja keliling memasang banner di jalanan, memanfaatkan keberaniannya memanjat. Bagi anak remaja, memegang uang ratusan ribu dari keringat sendiri terasa menggiurkan.

Apalagi sang ayah yang bekerja sebagai tukang bangunan harus memikirkan tiga anak lelaki yang masih aktif sekolah.

Namun, jauh di lubuk hatinya, Aldo tahu ini bukan akhir dari jalannya.

Titik Balik: Kembali ke Sekolah

Titik balik itu datang ketika salah seorang saudaranya memberikan informasi tentang Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 5 Ponorogo. Sebuah tempat yang membuka pintu bagi anak-anak yang kehilangan kesempatan belajar.

Aldo memutuskan pulang dan mendaftar. Kembali ke bangku sekolah berarti ia harus merelakan dompetnya kosong.

Tidak ada lagi uang ratusan ribu hasil borongan ngelas.

Kini, ia kembali menjadi siswa kelas 2 SMP di SRT 5 Ponorogo. "Rasanya ya beda, biasanya pegang uang sekarang enggak.

Tapi di sini semua sudah dipenuhi. Makan, alat mandi, perlengkapan, semua komplit.

Kayak ada yang menjaga," kata anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Saat ditanya mengapa ia rela meninggalkan penghasilan demi kembali belajar, jawaban Aldo sederhana: "Mau perbaiki masa depan."

Ia sadar, keahliannya akan jauh lebih kuat jika ditopang oleh pendidikan resmi.

>>> Menkeu: Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal I 2026 Lampaui Rata-rata G20

Aldo tidak ingin selamanya menjadi pekerja kasar serabutan tanpa arah yang jelas. Kini, ia memiliki impian untuk melanjutkan pendidikan ke Negeri Sakura, Jepang.