Meski demikian, MSCI mengumumkan Indonesia tetap bertahan di level negara berkembang karena sejumlah keunggulan pada aspek keterbukaan pasar.

"Hal itu menjadi salah satu faktor MSCI masih mempertahankan Indonesia di kelas negara berkembang, setelah sempat memberikan sinyal penurunan kelas," lanjut Ibrahim.

in1

Dari faktor eksternal, fokus pelaku pasar tertuju pada arah kebijakan moneter bank sentral AS.

Ibrahim mengungkapkan bahwa sembilan dari 19 pembuat kebijakan The Fed tetap memperkirakan minimal satu kali kenaikan suku bunga hingga akhir tahun ini.

Sinyal tersebut mempertegas ekspektasi bahwa suku bunga AS akan dipertahankan di level tinggi dalam jangka waktu lebih lama.

Meskipun The Fed menahan suku bunga pada pertemuan terakhir, pernyataan pejabatnya dinilai hawkish sehingga memicu penguatan dolar AS.

Situasi eksternal ini memicu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan mendorong indeks dolar AS ke level tertinggi dalam lebih dari setahun.

Kondisi tersebut menempatkan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, di bawah tekanan.

Berdasarkan kombinasi faktor domestik dan eksternal, Ibrahim memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak dengan kecenderungan melemah pada pekan depan.

>>> BRIN Temukan Spesies Baru Rhododendron di Sulawesi Tengah

Pergerakan mata uang domestik diperkirakan berada dalam rentang Rp17.500 hingga Rp18.000 per dolar AS.