Saya paham ada pertimbangan keamanan dan secara umum semuanya berjalan tertib, tapi saya punya masalah pada punggung, jadi berjalan sejauh itu cukup melelahkan, bahkan sebelum masuk stadion," keluh Anthony.

Banyaknya rute pengalihan serta barikade pembatas di sekitar kompleks olahraga juga membingungkan wisatawan asing. "Setiap kali kami merasa sudah sampai, ternyata masih harus berbelok lagi.

in1

Begitu melihat kerumunan suporter dan jersey dari berbagai negara, semua itu memang terlupakan," ungkap Martin.

"Namun kalau ditanya apakah prosesnya lancar, jawabannya tidak juga. Untuk acara sebesar Piala Dunia, saya berharap aksesnya lebih mudah," tambah Martin.

Sebagai alternatif, sebagian suporter menyewa taksi dari Manhattan dengan tarif mencapai USD 120 atau Rp 2,1 juta per jalan, sehingga mereka terpaksa berbagi tumpangan dengan orang asing demi memangkas biaya.

Antrean Panjang Pascapertandingan

Kondisi kemacetan dan penumpukan penumpang diprediksi masih akan terus terjadi setelah pertandingan usai.

Pada pertandingan sebelumnya, ribuan penonton dilaporkan terdampar selama berjam-jam di area stadion karena kesulitan mendapatkan armada Uber maupun Lyft.

Menanggapi situasi tersebut, Gubernur New York, Kathy Hochul, mengonfirmasi bahwa pemerintah daerah telah mengoperasikan armada bus bantuan dari Manhattan.

"Kami berharap perjalanan menuju stadion menjadi lebih mudah. Yang lebih kami khawatirkan justru perjalanan pulang.

>>> Dinkes Mataram Siap Fasilitasi SPPG MBG yang Masih Ditutup

Kami ingin memastikan semua orang mendapatkan pengalaman yang lebih baik," kata Hochul.