Penurunan kapasitas suplai tenaga listrik akibat kendala teknis operasional pada unit pembangkit utama memicu pemadaman listrik beruntun di berbagai wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta sejak pekan lalu hingga Jumat, 19 Juni 2026.

PT PLN (Persero) terpaksa menerapkan manajemen beban secara terbatas untuk menjaga stabilitas jaringan distribusi kelistrikan.

in1

>>> Turki dan Paraguay Berebut Kemenangan Perdana di Piala Dunia 2026

Gangguan interkoneksi ini melumpuhkan sistem pembayaran nontunai berbasis QRIS pada sektor ritel di Kota Semarang, sehingga menurunkan omzet pelaku usaha ritel modern.

Warga di berbagai daerah seperti Semarang, Gunungkidul, Magelang, Kebumen, Banjarnegara, hingga Pati turut terdampak oleh penghentian sementara pasokan listrik.

Di wilayah Jabodetabek, pemadaman berkala juga dilaporkan melanda kawasan Depok, Bogor, Tangerang, dan Tangerang Selatan karena alasan serupa serta adanya pemeliharaan gardu induk.

"Lumayan sering mati listrik minggu ini udah beberapa kali," ujar Asih, seorang petugas kasir minimarket di kawasan Pleburan, Semarang.

Asih menjelaskan bahwa pemadaman yang terjadi pada sore hari tersebut berlangsung sekitar dua jam dan membuat toko kehilangan mayoritas omzet akibat konsumen batal belanja.

"Iya sebagian memang enggak jadi beli karena enggak punya uang cash," beber Asih terkait dampak transaksi digital yang lumpuh.

Kondisi ini memaksa sejumlah konsumen yang terbiasa menggunakan metode pembayaran nontunai mencari alternatif lain agar tetap bisa bertransaksi.

"Ini sampai harus ngutang, karena udah kebiasaan anak muda sekarang beli apapun pake QRIS ya, bahkan beli cilok atau tempura aja kita scan QRIS meski cuma Rp 5.000," ungkap Dwi, seorang pembeli berusia 30 tahun di Semarang.

Dwi menambahkan bahwa dirinya merasa cemas jika gangguan pasokan energi ini memburuk hingga menyebabkan pemadaman total di seluruh kota.